Tim Penulis Biograph

Tim Penulis

Md Aminudin

Senior writer

Dunia sastra Indonesia tentu tak asing dengan nama Md. Aminudin. Sebelum terjun di penulisan biografi, ia telah menerbitkan sejumlah novel berlatar sejarah. MD. Aminudin mulai dikenal ketika menerbitkan novel dwilogi; Tembang Ilalang I & II, sebuah roman sejarah Indonesia. Pertama kali terbit, novel tersebut segera merebut hati pembacanya sekaligus para kritikus sastra. Sejumlah makalah, skripsi, tesis telah mengangkat novel ini sebagai bahan penelitian, mengingat novel tersebut ditulis dengan riset sejarah selama 3 tahun. 

Prekuel Memoirs of Stientje yang terbit pada 2012 juga memperoleh apresiasi luas dari pembaca. Novel-novelnya mendapat penghargaan di dunia sastra; Novel Terbaik JIBF 2008, Novel Dewasa Terbaik 2008, nominator Pena Award 2009, 2 kali masuk nominasi Fiksi Dewasa Terbaik JIBF Nasional. Novel petualangannya tentang sejarah Indian Muslim Amerika, Jejak Halefa, yang menampilkan sosok remaja sebagai tokoh utamanya sangat digemari para remaja SMP dan SMA.

Md Aminudin mulai melebarkan sayap kepengarangannya saat dipercaya oleh Penerbit Jawa Post Grup untuk menulis novel biografi seorang penderita penyakit kronis autoimun yang berjudul Hidup Kedua.

Sejak saat itulah ia mulai banyak terlibat dalam penulisan buku biografi maupun buku populer para publik figur dari beragam profesi dan latar belakang; dokter, pengusaha, guru, dosen, ustadz, profesional, pejabat publik dan politisi. Selain itu, ia juga banyak terlibat sebagai editor tamu dan penulis artikel di berbagai majalah.

Oki Aryono

Senior writer

Awal karirnya dimulai pada 2003 sebagai reporter Majalah Al Falah, sebuah majalah internal yang diterbitkan lembaga amil zakat nasional (laznas) Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) yang berpusat di Surabaya.

Meski ‘hanya’ majalah internal, namun jumlah cetaknya pernah mencapai 102.000 eksemplar tiap bulannya. Suatu jumlah yang fantastis untuk media cetak untuk kalangan internal yayasan.
Dari sanalah, lulusan Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya ini kerap mewawancarai tokoh lokal maupun nasional yang diundang mengisi kajian di Masjid Al Falah Surabaya.

Sebut saja wawancara eksklusif dengan penyanyi reliji Opick, Ustadz Budi Ashari, Lc (dai nasional), Dr. Syafii Antonio (Pimpinan Institut Tazkia), Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. MA (rektor Universitas Darussalam Gontor), dan masih banyak lainnya.

Dalam perjalanannya, pria kelahiran Surabaya, 22 Oktober 1978 ini banyak terlibat dalam proses penerbitan dan penyuntingan buku, majalah dan penulisan website. Untuk majalah misalnya Majalah Al Falah (terbitan YDSF Jember sejak 2020 hingga kini) dan Majalah Insan Kamil (April-Oktober 2021).

Website yang pernah diawaki antara lain suaramuslim.net (2018-2020), hadiyanberkisah.com (2020), anikdentist.com (2020-kini), dan zakatydsf.or.id (2020-kini).

Untuk buku misalnya terlibat dalam proses penyuntingan Bukan Sekadar Ayah Biasa (2016, penulis: Misbahul Huda. Penerbit: Bina Qalam, Surabaya), Belajar Dari Kulkas (2016, penulis: Mim Syaiful Hadi. Penerbit: Penerbit: Bina Qalam, Surabaya), & Japri Allah, Renungan Spiritual Parenting (2019, penulis: Ani Christina & M. Ruman Nasruddin. Penerbit Rumanos, Sidoarjo).

Tak hanya buku personal, pria yang kini tinggal di Sidoarjo ini ikut terlibat dalam penulisan dan penyuntingan buku laporan lembaga dan organisasi. Antara lain 30 Tahun Al Hikmah (2019), Berhikmah 2019-2021 (buku prestasi Yayasan Pendidikan Islam Al Hikmah Surabaya), dan Jejak Kaki Relawan Pendidikan Yayasan Hang Tuah Pascaerupsi Semeru (2022).

Di sela-sela waktunya, ia aktif menulis dan mengisi website/blog komunitas: ngajijodoh.com dan masjidkusayang.wordpress.com.

Abdul Aziz Muslim

Senior writer

Mengawali karier sebagai Staf Ahli Anggota DPD RI/MPR-RI sejak 2004, Aziz banyak terlibat dalam kajian kebijakan publik yang membawanya berinteraksi dengan sejumlah lembaga besar di tanah air. Sebutlah LP3ES, Labsosio FISIP UI, Balitbang Kemdikbud, Wasbang Kemenko Polhukam dan Bappenas. 

Ia juga banyak terlibat dalam proyek-proyek penelitian sosial berkerja sama dengan NGO luar negeri seperti, USAID, Asia Foundation, UNDP dan KAS Jerman. 

Laporan-laporan mendalamnya dipublikasikan ole sejumlah terbitan luar negeri seperti Jurnal Reform Review, Asia Consult, Newsletter Indonesia Watching (IW) Jepang.

Aziz terlibat dalam penulisan buku-buku bertema sosial, sejarah kota dan biografi tokoh. 

Buku-buku yang terbit berkat sentuhan tangannya, antara lain: 

  • Politisasi Birokrasi: Netralitas dan Mobilitas PNS dalam Pilkada, Global Sosiatama, 2010.

  • Analisis Kebijakan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Dalam Perspektif Wawasan Kebangsaan dan Kesatuan Bangsa, Kementerian Polhukam, 2014.

  • Melangkah Kedepan, Membangun Aceh Bermartabat, Titian Pena, 2015

  • Tembakau; Hitam Putih. Kerjasama LTN PBNU dengan LabSosio UI. 2013

  • BAKTI TNI Bergerak: Gelorakan Berjuang Bersama Rakyat. Profil dan Biografi Kolonel Inf Yudianto Putrajaya, S.E, M.M. Paban V Sterad, Mabesad, 2020.

 

Soenano

Senior writer

Concern meneliti dan menulis buku bertema Tionghoa menempatkan Soenano (atau karib dipanggil Kang Nano) sebagai salah satu penulis otoritatif tentang budaya Tionghoa di Indonesia. Dua bukunya yang telah terbit adalah: Partisipasi Muslim Tionghoa di Indonesia dan Muslim Tionghoa di Indonesia.

Selain menulis buku, artikelnya bertebaran di sejumlah media seperti Suara Muhammadiyah dan Republika.com.  Beberapa buku hasil kolabirasi Kang Nano dengan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang terbit adalah: Jakarta Hijau-Menghijaukan Jakarta dengan Bank Sampah, Global Qurban Dalam Negeri, Global Qurban Luar Negeri, Sumur Wakaf, Tepian Negeri-Kisah Anak-Anak Tepian Negeri Meraih Mimpi, dan Humanity Food Truck-Melayani Dengan Memberi Makan Gratis.

Seperti Apa Jasa Ghost Writer Terpercaya?

jasa ghost writer

by Md Aminudin (novelis & ghost writer)

Biograph.id–Mencari jasa ghost writer terpercaya alias bisa dipercaya dan kredibel memang gampang-gampang susah. Karena memang tidak semua orang bisa menulis dengan baik, apalagi menuliskan ide orang lain.

Belakangan ini banyak pilhak yang mencari jasa ghost writer atau juga sering disebut penulis bayangan, untuk membukukan ide dan pengalaman mereka. Namun tak sedikit yang akhirnya kecewa karena buku yang ditulis jauh dari harapan. Saya sendiri pernah menerima klien yang sebelumnya sudah dua kali memakai jasa ghost writer dan hasilnya tidak memuaskan. Saya adalah ghost writer ketiga yang dia tunjuk dan Alhamdulillah, begitu saya sodorkan naskah bab 1 dari bukunya, ia langsung cocok.

Cerita di atas menggambarkan begitu tidak mudahnya menemukan jasa ghost writer terpercaya, kredibel dan bisa diandalkan. Banyak penulis yang mengaku punya kompeteni sebagai penulis bayangan, tetapi ternyata kualitas tulisannya jauh dari harapan.

Lantas seperti apa Ghost Writer terpercaya itu?

Ada satu lagi pengalaman saya yang setidaknya mendeskripsikan apa yang saya sebut Jasa Ghost Writer terpercaya.

Beberapa waktu lalu seorang klien lama yang biografinya pernah saya tulis, menghubungi saya.

“Pak saya ingin membukukan pengalaman saya membenahi lembaga pendidikan yang saya dan teman-teman rintis 16 tahun lalu,” kata beliau via telepon. Selain sebagai pejabat penting di pemerintahan, beliau memang mengelola lembaga pendidikan swasta yang muridnya menyentuh angka 2000.

“Buku ini membahas manajemen holding lembaga pendidikan dan manajemen krisis,” sambungnya lagi. Kata holding untuk menunjukkan bahwa lembaga tersebut mengelola jenjang sekolah dari PAUD hingga SMA. 

“Kapan target jadinya, Pak?” tanya saya.

“Awal April saya launching.”

“Kok kelihatan buru-buru, pak. Untuk momentum apa?” Saya penasaran.

“Kalau tidak segera ditulis nanti khawatir idenya keburu melayang, Pak.”

Kepuasan Klien

Hingga artikel ini saya tulis, beliau sudah 3 kali memakai jasa saya dan alhamdulillah selalu memuaskannya. Angka “tiga buku” itu sudah cukup buat membuktikan bahwa jasa ghost writer yang kami berikan sesuai dengan ekspektasi klien. Tentu ini bukan semata karena Jasa Ghost Writer murah yang kami tawarkan, tetapi lebih karena kualitas pekerjaan kami. Sebab itulah klien sering menyebut kami sebagai layanan jasa ghost writer terpercaya, tidak sekadar terbaik atau profesional.

Ada banyak orang yang seperti klien saya di atas, yang kaya ide dan pengalaman di berbagai bidang maupun profesi: pengusaha, CEO, manajer, guru, dosen, politisi atau birokrat. Bedanya klien saya ini aktif membukukan ide dan pengalamannya. Sementara itu saya juga banyak menemukan orang-orang yang memiliki gagasan brilian dan pengalaman yang kaya tetapi gagal atau enggan membukukannya. 

Ide itu seperti seperti parfum, aromanya harum tetapi mudah lenyap ditelan angin. Ide bersumber dari pikiran dan ingatan. Karakter ingatan itu sering timbul tenggelam ditumpuki oleh ingatan-ingatan yang lain. Sebab itulah ia perlu segera “ditangkap” supaya tidak lepas. 

Tipe-tipe Klien Ghost Writer

Dalam perjalanan melayani klien sejak 2013 lalu, ada dua tipe klien jasa ghost writer yang saya catat;

Pertama, bisa menulis tapi tidak punya waktu. Dengan kata lain sebenarnya ia punya kemampuan menulis tapi tidak punya cukup waktu untuk menungkan gagasannya menjadi buku. Ia mungkin sudah berusaha menulis tapi selalu mandek di tengah jalan karena faktor kesibukan sehari-hari.

Saya pernah bahkan melayani klien ghost writing seorang mantan wartawan senior yang kini menjadi anggota DPR RI. Backgroundnya sebagai wartawan Majalah Tempo dan Media Indonesia sudah barang tentu adalah jaminan bahwa ia memiliki keterampilan menulis yang mapan.

Kedua, punya ide dan pengalaman ciamik tetapi tidak cukup punya skil untuk menulis. Ini yang umum menjadi klien jasa ghoswriter Biographic.id. Sudah lebih dari 20 buku klien yang kami tulis dari beragam profesi; dokter, guru, dosen, CEO perusahaan, motivator dan politisi. Selengkapnya bisa Anda baca di laman PORTOFOLIO. Sebagian di antaranya bahkan telah repeat order lebih dari dua kali dan merekomendasikan jasa ghostwriter kami kepada rekan-rekannya. Ini membuktikan bahwa jasa ghost writer kami sangat memuaskan di mata klien. 

Ketiga, punya ide dan pengalaman tapi ragu atau enggan menuliskannya. Mereka khawatir jika ide tersebut hanya akan dianggap sampah oleh pembaca. Padahal, dengan pendampingan jasa ghost writer yang tepat seperti tim penulis pendamping di Biographic, problem tersebut akan ketemu solusinya.

Ketiga tipe klien itulah yang sangat membutuhkan jasa co-writer atau ghostwriter. Sebab di tangan ghostwriter ide-ide yang mungkin dianggap tidak cukup meyakinkan atau sederhana bisa dikemas jadi buku yang laik baca. 

Dua Layanan Jasa Penulis Ghost Writer Biograph.id

Biographic menyediakan dua layanan jasa ghost writer yang bisa jadi alternatif bagi klien:

Pertama, anda sudah punya draft mentah naskah dan tugas kami menyunting. Katakanlah ibarat buah, buku ini sudah setengah matang. Jadi tim penulis Biograhic.id tinggal menyempurnakannya sehingga lezat saat dinikmati pembaca. 

Kedua, anda hanya mengungkapkan gagasan kepada kami dan kami akan menuliskannya mulai dari nol. Menerjemahkan ide atau pengalaman Anda ke dalam bab demi bab hingga terangkum menjadi buku yang laik baca. Laik baca maksudnya, struktur gagasan oke, tata bahasa atau gaya bahasa pun renyah. Sehingga meskipun materinya berat pembaca awam tetap bisa menikmati buku tersebut. Ini sudah kami praktikkan misalnya pada buku bertema medis.

Mungkin ada yang mengalami seperti ini:

“Saya jarang baca buku-buku manajemen, tetapi saya punya pengalaman panjang di bidang tersebut. Bagaimana agar pengalaman saya yang dibukukan tersebut tetap mengandung pengetahuan populer dan kontemporer?”

Jangan khawatir tim ghost writer akan memperluas khasanah gagasan pada buku tersebut dengan cara memperkayanya dengan teori-teori menajemen dari para pakar manajemen ternama. Sehingga meskipun basis utama atau idenya dari pengalaman Anda, buku tersebut  akan tetap tampil sebagai buku yang kaya literatur dan keilmuan.

Bagi kami, kasus seperti ini sudah umum. Ada banyak orang yang sukses sebagai pengusaha tetapi tidak mendalami teori-teori bisnis. Ia sukses secara natural. Inilah tugas jasa ghostwriter untuk memetodologikan pengalaman-pengalaman praksis tersebut sehingga bisa dinikmati pembaca.

Tahapan Kerja Ghost Writer

Untuk membukukan ide anda tentu melewati banyak tahapan. Di bawah ini hanyalah garis besarnya. 

Pertama, kami akan mendengar gagasan klien, mendiskusikan berbagai kemungkinan ide tambahan untuk memperkaya ide anda

Kedua, kami akan membuat draft yang berisi bab atau bagian dan sub-bab yang berisi pokok-pokok bahasan buku tersebut. Draft ini kami ajukan kepada klien untuk didiskusikan, diperkaya lalu disetujui. Bagaimana jika di tengah penulisan muncul tambahan ide? Jangan khawatir, tetap akan kami akomodir.

Ketiga, timeline dan MOU. Tahapan pekerjaan bab demi bab akan kami susun ke dalam timeline sebagai panduan waktu bagi kami dan klien. Pada tahap ini MOU sudah ditandatangani. 

Keempat, contoh naskah. Kami akan menuliskan dua tiga halaman untuk diperiksa klien terutama untuk dilihat apakah gaya bahasanya sudah sesui dengan selera klien? 

Kelima, progress. Kami akan mengirim progres pekerjaan setidaknya seminggu sekali, untuk diperiksa dan dikoreksi oleh klien. Tahap ini sekaligus menggambarkan jika kami bekerja secara pararel, tidak menunggu buku jadi baru direvisi. Sehingga klien tahu jika ada bab yang kurang cocok. 

Langkah ini juga untuk mengantisipasi kemungkinan adanya komplain dari klien; setelah buku jadi kok ternyata tidak sesuai ekspektasi.

Tahapan pekerjaan yang sama juga kami terapakan dalam penulisan biografi personal atau  biografi korporasi.

Selain itu kami juga mimiliki pengalaman menulis berbagai jenis tema buku dan style. Seperti novel bigrafi, autobiografi, sejarah perjalanan lembaga non-bisnis, perjalanan program dan sebagainya.

Nah, itulah gambaran pekerjaan yang akan dilakukan oleh penyedia jasa ghostwriter di Indonesia khususnya yang diterapkan biographic.id. Kami, bahkan siap melayani komunikasi dengan klien kapan saja klien punya waktu, siang, sore, petang bahkan malam. 

Silakan ajukan pertanyaan untuk mengetahui lebih detil tentang layanan kami dengan cara yang sangat mudah; cukup Klik logo WhatsApp di sebelah kanan bawah. Atau silakan kunjungi PORTOFOLIO untuk melacak karya kami.

Kita adalah Produk dari Apa yang Kita Pikirkan

Sumber: Wikipedia

Biograph.id–Di balik kata-kata ada energi. Di balik kalimat ada kode-kode rahasia yang tak tampak namun punya pengaruh nyata dalam kehidupan manusia. Sebab itulah Allah menurunkan firmannya lewat medium kalimat. Bukankah Kitabullah seratus persen isinya kata-kata? Dan seratus persen isi Al-Qur’an tersebut adalah afirmasi positif bagi manusia, tak ada satupun ayat yang hoax. 

Berdasar keyakinan seperti itulah dalam banyak hal, dalam beragam kondisi, saya lebih memilih menggunakan kalimat dan kata-kata positif untuk mengafirmasi diri sendiri. Afirmasi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yang secara harfiah diartikan sebagai penegasan atau penguatan. 

Setting afirmasi menjadi penting karena pikiran bawah sadar 88% mempengaruhi pikiran, perasaan, perilaku, dan keputusan yang dibuat. Memilih dan merangkai kata-kata yang berdaya akan mempengaruhi pikiran seseorang untuk lebih berdaya. Ketika pikiran sudah berdaya, maka pilihan perilaku dan kegiatannya pun pasti akan mengarah pada hasil yang maksimal.

Karena itu saya sendiri lebih senang menyebut kesulitan akibat krisis pandemi ini—atau krisis apapun—sebagai TANTANGAN. 

Coba, sekali lagi perhatikan dan rasakan dua kalimat ini; kata “kesulitan” dan “tantangan”.

Kalimat pertama akan terdengar mengkhawatirkan, mencemaskan dan terkesan seperti jalan buntu. Kalimat kedua terdengar heroik dan menyulut nyali untuk menaklukkannya. 

Inilah yang saya maksud afirmasi. Pada bagian inilah sekali lagi, paradigma kita dalam memandang suatu persoalan sangat mempengaruhi tindakan kita dalam merespons persoalan tersebut. Ketika paradigma kita memandang pandemi ini sebagai bencana dan kesulitan, maka secara kejiwaan kita akan merasa kecil dan tak berdaya dibuatnya. Namun jika kita menempatkannya sebagai tantangan, maka otak kita akan memproduksi hormon adrenalin yang membuat jiwa diselimuti keberanian.

Pikiran Tidak Bisa Berbohong

Para pakar perilaku mengatakan, semua tindakan manusia bermula dari pikiran. Ketika pikiran dijejali materi-materi negatif, maka tindakan yang lahir olehnya pun juga tindakan negatif. Pendek kata, apa yang dilakukan manusia selaras dengan apa yang sering dipikirkannya. Manusia tidak bisa membohongi pikirannya sendiri. 

Jalan pikiran kita juga dipengaruhi oleh memori yang berulang-ulang kita rekam dalam ingatan hingga kemudian membentuk perilaku berpikir. 

Bayangkan suatu malam Anda berjalan di gang delap. Tiba-tiba muncul sosok berpakain putih-putih seperti pocong yang kerap Anda lihat dalam film-film horor Indonesia. Orang yang sebelumnya suka hal-hal yang bersifat tahayul, suka nonton tayangan horor, akan langsung lari terbirit-birit; memori dalam otaknya yang berisi gambar horor mendorongnya untuk sepontan lari. Tapi orang yang tidak percaya pada hal-hal tahayul, pikirannya akan segera bekerja secara rasional. Ia tak percaya hantu, memedi atau pocong karena memang keyakinan yang tertanam dalam memorinya selama ini menolak hal itu. Dan ternyata benar, bayangan putih-putih itu seorang kakek-kakek yang baru saja pulang dari masjid. 

Orang pertama dituntun oleh pikirannya yang ternyata tidak benar. Ia terkelabuhi, tertipu oleh bayangan buruk dalam pikirannya sendiri. Orang kedua juga dituntun oleh pikirannya. Bedanya, karena selama ini ia biasa berpikir rasional, maka ketika menghadapi kejadian paling mengejutkan sekalipun pikirannya tetap mampu bekerja secara rasional. 

Contoh kejadian di atas menegaskan bahwa pikiran mempengaruhi persepsi. Persepsi adalah proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan oleh seorang individu (Gibson & Donely, 1994 : 53), selain itu persepsi juga dipahami sebagai sebuah proses menerima, menyeleksi, mengoragnisasikan, megartikan, menguji, dan memberikan reaksi kepada suatu objek, peristiwa atau permasalahan (Linda, 1998 : 248). Sederhananya persepsi itu kacamata yang dipakai seseorang dalam memandang sebuah objek. Objek tersebut bisa berupa benda yang dapat diindera atau yang tidak dapat diindera namun berdampak pada dirinya. 

Beda Kacamata, Beda Kesan 

Dalam memandang satu masalah, orang A bisa berbeda dengan orang B. Dalam menghadapi pandemi, seorang yang biasa mengaji ayat-ayat Al-Quran, membaca atau mendengarkan kisah-kisah berhikmah akan beda persepsi dari orang yang dalam memorinya tak pernah atau jarang disentuh kisah-kisah berhikmah. Orang yang dekat dengan Allah akan melihat musibah apapun dengan kacamata positif; bahwa musibah ini datangnya dari Allah dan Allah pasti sudah melengkapinya dengan jalan keluar. 

Perbedaan kaca mata itulah yang kemudian menentukan persepsi keduanya. Orang pertama akan cenderung ketakutan, cemas berlebihan, sibuk mencari kambing hitam dan terus menerus menyalahkan keadaan. Setiap saat hatinya gelisah, galau, merana dan merasa tak berdaya menghadapi kenyataan. Sinyal dari hati lalu merambat ke pikirannya. Pikiran itulah yang kemudian menghasilkan tindakan. Tentu saja orang yang memakai kacamata negatif akan selalu memandang objek masalah yang dilihatnya sebagai negatif belaka. Dan sudah pasti hidupnya jauh dari produktivitas karena ia hanya fokus pada masalah. 

Tapi orang kedua akan cenderung tenang, banyak zikir, introspeksi, merenung, belajar dan berlatih lebih giat untuk menguatkan saraf-saraf skilnya. Ia sanggup menghibur dirinya sendiri dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang jadi sumber keyakinannya bahwa di dalam kesulitan ada kemudahan. Ia mencoba mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Setelah berhasil menenangkan jiwanya, pikirannya akan bergerak secara aktif. Dari sinilah lahir terobosan, solusi dankreativitas baru yang bahkan belum terpikirkan saat keadaan masih normal. Keadaan seburuk apapun tak mempengaruhi produktivitasnya untuk berkarya. Dengan paradigma positif itu, ia bisa meropong peluang meskipun peluang itu sekecil lubang jarum, hal yang tak pernah bisa dilihat oleh orang pertama dengan paradigma sempitnya. 

Amir Faisal, dalam buku Menang Melawan diri Sendiri menguraikan, paradigma adalah sudut pandang atau persepsi seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhi seseorang dalam berpikir dan bertindak secara keseluruhan. Ketika kita mendengar informasi yang berjubelan mengenai dampak pandemi Corona terhadap dunia kesehatan, sosial dan bisnis maka persepsi kita tentang situasi yang amat buruk itu akan mempengaruhi sikap dan respons kita. Kita pun menjadi paranoid berlebihan. 

Waspada dan hati-hati itu sehat selama berada dalam takaran yang cukup. Tapi ia akan berubah mematikan bila sudah bermetamorfosa menjadi paranoida. Maka memandang masalah dengan paradigma yang benar menjadi penting agar hidup kita tidak terjebak pada pola pikir dan pola perilaku yang meleset. Ibarat kacamata yang kita kenakan sesuai ukuran kadar plus-minusnya, demikian juga paradigma. Ketika kita memandang suatu masalah dengan paradigma yang tepat maka hidup kita akan tepat sesuai goal yang kita inginkan. 

Kita semua sama-sama punya rasa takut, keraguan dan merasa tidak yakin. Hal yang membedakan adalah dalam hal bereaksi mengatasi perasaan tersebut. Perbedaan respon itulah yang menyebabkan seseorang memilih jalan hidupnya masing-masing (Robert T. Kiyosaki).

Paradigma adalah produk mental yang mempengaruhi jalan hidup kita. Oleh karena itu yang mesti kita lakukan adalah memeriksa, membongkar dan mengoreksi paradigma negatif lalu mengubahnya—jika perlu dengan paksa—dengan paradigma positif. Paradigma terbaik tentu saja adalah paradigma yang bersumber dari Al-Quran karena ia berasal dari perkataan langsung Allah Swt. 

Grit: Saat Ketabahan Batin Diuji

Krisis adalah cara Allah memutar roda kehidupan, memaksa keluar potensi tersembunyi yang terpendam dalam diri manusia.

Krisis adalah bagian problem yang sudah jadi sunatullahnya kehidupan. Sepanjang kita masih bernyawa, masalah–dalam beragam variannya–akan terus terjadi. Bagi mereka yang kabur paradigma spiritualnya, krisis dianggap sebagai tembok penghalang. Sebaliknya bagi mereka yang terang keyakinan spiritualnya, krisis dianggap sebagai cara Allah memutar roda kehidupan, memaksa potensi tersembunyi yang terpendam dalam diri manusia. Ini adalah ucapan mentor hidup saya, Cak Ismail Nachu, yang terus mengeram di kepala.

Ibarat olah raga, problem adalah latihan-latihan buat mengencangkan otot. Semakin sering dilatih, semakin kuat otot dalam tubuh hingga kuat menanggung beban berat.

Belajar dari Elon Musk

Elon Musk adalah sedikit contoh entrepreneur kelas dunia yang tak bosan mengundang masalah. Ide-idenya, sepuluh tahun lalu banyak dicerca oleh orang karena dianggap teralu utopia. Tapi hari ini dunia mengenal pria kelahiran Afrika ini sebagai enterpreneur dan teknokrat terbesar di dasarwasa ini. Ia merevolusi teknologi antariksa dengan SpaceX, mengubah masa depan transportasi dunia dengan Tesla dan Hyperloop, mengubah masa depan energy dengan Solar City, dan masih banyak lagi lainnya.

Dengan kesuksesannya itu, Elon Musk sering di sebut sebagai “Tony Stark” atau “Iron Man” dalam kehidupan nyata. Namun mari berhenti mengagumi kesuksesan Elon Musk. Mari kita melihati dengan paradigma multi dimensi untuk menemukan pelajaran inti dari balik perjalanan hidupnya. Seperti para suksesor lain, hidup Musk dipenuhi kegagalan-kegagalan.

Berikut beberapa daftar kegagalan parah yang pernah dialami Elon Musk. Saya sebut “beberapa” karena pastinya ada sudah mengalami banyak sekali kegagalan-kegagalan kecil yang tidak terekspose.

1995: Ditolak saat melamar pekerjan di Netscape
1996: Dipecat sebagai CEO di perusahaannya sendiri, Zip2
1999: PayPal dianggap sebagai 10 ide bisnis terburuk
2000: Dipecat dari Paypal saat bulan madu
2000: Hampir meninggal akibat malaria serebal.
2001: Rusia menolak menjual roketnya
2002: Rusia menolaknya lagi.
2006: Peluncuran roket pertama dan ledakan pertama SpaceX
2007: Peluncuran roket kedua dan ledakan kedua
2008: Peluncuran roket ketiga dan kegagalan kritis ketiga – bersama satelit NASA
2008: Tesla dan SpaceX di ambang kebangkrutan

2013: Roket pertama gagal mendarat di samudera
2014: Model Tesla S memiliki beberapa masalah dengan pembakaran baterai spontan

2015: Roket keempat meledak saat peluncuran. Roket kedua dan ketiga meledak saat mendarat di sebuah drone ship
2016: Pengiriman Tesla model X tertunda lebih dari 18 bulan
2016: Roket kelima meledak saat peluncuran dengan satelit facebook di Afrika (biaya $300 M)
2016: Kegagalan kritis roket SpaceX keempat, kelima dan keenam saat mendarat di droneship

Berbagai kegagalan itu justru menjadikan otot-otot inovasi Elon Musk menjadi semakin kuat. Alih-alih menyalahkan keadaan atau orang lain lalu menyerah, ujian dan kegagalan itu justru semakin membuat Musk tertantang untuk menaklukkannya. Berkat usaha kerasnya itu, saat ini di kantong Elon Musk tersimpan kekayaan sebesar 36 miliar dolar. Silakan konversikan ke rupiah, maka Anda akan dibuat geleng-geleng kepala.

Orang Indonesia memang gampang terkagum dengan pencapaian seseorang. Tapi jarang menengok dan mencari tahu mengapa seseorang bisa sukses dan bagaimana caranya sukses? Atau sebaliknya, ada kecenderungan mencurigai seseorang yang mencapai sukses dalam waktu singkat; jangan-jangan ia memelihara tuyul, jangan-jangan ia menipu, jangan-jangan …. Sikap skeptis seperti inilah yang menyeret kita pada penjara mental pecundang.

Mari kita melihat kesuksesan Musk dengan paradigma multi dimensi agar kita menemukan kunci suksesnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Prof Angela Duckworth yang kemudian dituangkan dalam buku Grit: Kekuatan Passion dan Ketabahan, anak-anak yang dibesarkan dalam kesulitan akan berpotensi meraih kesuksesan di masa depan dibandingkan anak yang sejak kecil terbisa dituruti semua permintaannya. Sejak kecil mereka sudah belajar arti ditolak dan gagal sehingga lambat laun membentuk mental tahan banting—Angela Duckworth menyebutnya sebagai Grit.

Dalam bahasa kita Grit diartikan sebagai ketabahan batin. Angela Duckworth mengatakan, bakat dan pendidikan saja tidaklah cukup, bahkan bukan penentu utama kesuksesan. Passion dan ketabahanlah yang membuat seseorang mampu bertahan dalam derita, ujian dan kejatuhan untuk secara konsisten membangun kesuksesannya. Untuk bergerak menuju sukses seseorang harus melewati jalan berliku yang itu hanya bisa pelajari lewat pengalaman langsung, yaitu Passion (mencintai pekerjaan) dan Grit (etos tahan banting).

Krisis demi krisis yang kita hadapi akan memperkuat ketahanan mental. Sehingga kita akan lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang terjadi di depan. Krisis adalah momentum untuk lebih banyak belajar, mengasah pisau kreativitas agar kita tetap bisa beradaptasi dengan segala situasi. Dan krisis dalam bentuk apapun hanya bisa dilalui oleh mereka yang bermental—meminjam istilah Dr. Paul G. Stoltz—Climber (pendaki yang mencapai puncak).

Tiga Tipe Pemilik Impian. Anda yang Mana?

Biorgraph-id. Disadari ataupun tidak, setiap orang memiliki impian. Sederhana apapun impian itu. Namun tidak semua orang—atau bahkan lebih banyak—yang gagal mencapai impiannya dan memilih menguburnya dalam-dalam. Ada yang berhenti di awal perjalanan, ada yang berhenti di tengah perjalanan, dan ada yang lebih tragis memilih berhenti ketika perjalanannya memburu impian sudah hampir sampai di titik tujuan.

Paul G. Stoltz, PhD., dalam buku Adversity Quotient, mengibaratkan perjalanan menuju kesuksesan itu ibarat perjalanan pendakian. Setiap kita, di sadari maupun tidak, sesungguhnya punya dorongan naluriah untuk menaklukkan puncak gunung (kesuksesan). Dengan kata lain,  semua manusia berkeinginan untuk sukses dalam hidupnya, apa pun jenis kesuksesan itu. Hanya saja ada tipe orang yang segera mengurungkan mimpinya begitu melihat betapa tinggi dan berbahayanya jalur pendakian yang membentang di hadapannya.

Ada juga tipe orang yang sekadar ingin mencoba-coba mendaki, sambil berharap jika di tengah perjalanan menemuia masalah akan ada orang lain yang membantunya. Namun ada tipe orang yang memang sedari awal sudah menyiapkan diri untuk menaklukkan puncak gunung dengan berbagai kemungkinan kesulitan yang dia hadapi. Tipe orang terakhir inilah yang bakal mencapai impiannya secara gemilang.

Tiga Jenis Pemimpi Menurut Paul G. Stoltz

Paul G. Stoltz, PhD, profesor pengembangan diri asal Amerika ini menyebut para pemikik impian itu sebagai pendaki. Ia mengklasifikasikan hal tersebut dalam tiga tipe pendaki.

Mereka yang berhenti (Quitters)

Mereka adalah tipe manusia yang takut tantangan. Karena itulah mereka lebih suka hidup biasa-biasa saja, mengerjakan sesuatu yang minim risiko. Mereka sebenarnya punya bisikan naluriah yang mendorong untuk mendaki, namun mereka tak cukup punya keberanian. Tipe seperti ini hampir mendominasi lingkungan pergaulan kita. Anda bisa survei ke setiap orang yang Anda temui lalu ajukan pertanyaan apakah mereka ingin sukses dalam karier dan impiannya? Saya yakin 100% akan mengggukkan kepala. dari mereka ingin jadi pengusaha, bermimpi punya usaha sendiri ketimbang bekerja di perusahaan orang lain. Ini membuktikan jika sebenarnya dalam diri setiap orang tertanam naluri untuk hidup merdeka menentukan nasibnya sendiri.

Namun pertanyaannya adalah mengapa mereka tetap bertahan di posisinya sekarang dan tak pernah beranjak ke mana pun? “Khawatir” adalah kata yang akan Anda temukan di balik alasan mereka untuk memilih tetap bertahan pada posisinya sekarang. Khawatir pada apa? Khawatir jika usaha mereka akan gagal. Khawatir jika keuangan bulanan mereka akan terganggu setelah resign dan memulai usaha sendiri. Berbagai macam kekhawatiran yang belum dia alami terus menjadi momok yang menghantui hidupnya.

Jika toh kemudian mereka benar-benar terjun di dunia bisnis lalu menemui kegagalan, mereka sudah siap dengan seribu satu alasan sebagai pembenar dari kegagalannya. Alih-alih mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut lalu merumuskan strategi baru, cara baru, kreativitas baru, mereka lebih suka berlindung di balik alasan-alasan yang dia persepsikan sebagai biang keladi kegagalannya itu. Lalu berhamburanlah kata-kata seperti ini:

  • “Saya memang tidak berbakat jadi pengusaha.”
  • “Pantas saja dia jadi pengusaha sukses, lha wong ayahnya punya koneksi orang-orang besar.”
  • “Wajar kalau dia sukses, modalnya unlimited.
  • “Saat ini bisnis sedang lesu, hanya yang punya modal besar saja yang mampu bertahan.

Mereka yang Berkemah (Campers)

Tipe kedua adalah campers. Pada awal perjalanan mereka tampak begitu bersemangat. Namun lambat laun semangat itu padam ketika banyak tantangan yang dihadapi. Mereka memilih berkemah di tengah perjalanan pendakian itu begitu menyadari bahwa jalan yang dia tempuh sangat tidak bersahabat. Mereka merasa cukup puas dengan pencapaiannya.

Di lingkungan kita juga banyak kita temui orang-orang yang seperti ini. Biasanya orang bertipe ini orientasinya adalah kehidupan pribadi dengan lingkaran kecil keluarganya. Mereka cukup puas punya mobil, rumah, dan sedikit tabungan. Tak jarang mereka berlindung di balik terma syukur. “Yah, walaupun tidak sesukses Sandiaga Uno saya cukup bersyukur sudah bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan keluarga saya, sementara masih banyak orang yang kehidupannya jauh di bawah saya.”

Dia terjebak pada pemaknaan yang keliru tentang syukur. Syukur mereka maknai sebagai “puas”. Puas dengan apa yang sudah dicapai meskipun mereka sadar bahwa perjalanan mereka masih jauh dari akhir tujuan. Menurut saya salah satu tanda syukur itu adalah berusaha terus menerus tiada henti. Sampai kapan? Sampai ajal menjemput. Berproses terus-menerus tiada henti sampai tubuh berkalang tanah. Terus berinovasi menciptakan terobosan baru, terus berusaha ambil bagian memecahkan masalah sekitarnya.

Para Pendaki (Climbers)

Climber adalah mereka yang meyakini bahwa mereka mampu menggapai apa yang mereka inginkan. Dorongan keyakinan itulah yang membuat mereka terus bergerak dalam ketabahan, kegigihan, ketekunan dan konsistensi di atas rata-rata. Suatu ketika seorang wartawan bertanya kepada Thomas Alva Edison. “Mr Edison, Anda kan mengalami kegagalan sebanyak 50.000 kali. Apa yang membuat Anda saat itu yakin bahwa pada akhirnya Anda akan mendapatkan hasil?” Jawab Edison, “Saya telah mendapatkan banyak hasil. 50.000 uji coba yang oleh orang lain dianggap sebagai kegagalan itu telah memberi informasi kepada saya bahwa itu tidak berfungsi.”

Bagi mereka tak ada istilah gagal. Yang ada hanyalah informasi bahwa mereka harus belajar dan belajar lagi, mencoba dan mencoba lagi. Mereka selalu punya energi untuk bangkit lagi di tengah kejatuhan yang paling parah sekalipun.

Saat menemui jalan buntu, mereka berusaha mencari jalan alternatif. Saat tubuh terasa capek, mereka jeda sejenak untuk mengumpulkan kekuatan, memusatkan konsentrasi. Mereka gigih belajar dari semua hal. Karena mereka percaya bahwa dengan belajar mereka mereka akan memperoleh pengetahuan baru yang berguna sebagai tambahan bekal untuk mengembangkan kapasitas mereka. Mereka tak pernah kehabisan energi karena mereka tahu sumber energi itu bukan berasal dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Itulah mengapa para pemimpi ini selalu tampak bugar dan antusias, seakan-akan mereka tidak pernah merasa lelah.

Para Pemimpi pun Pernah Lelah

Para pemimpi bukan robot. Ia manusia biasa yang bisa terserang lelah, bosan, bahkan mengalami keraguan. Namun, berbeda dari quitters dan campers, para climber punya kesadaran tersendiri untuk segera bangkit dari seluruh penyakit mental yang bakal menghancurkan mimpinya. Mereka adalah orang yang punya keberanian. Mereka adalah “penganut paham” growth mindset.

Sekali lagi ini memang faktor mindset. Orang-orang yang bermindset tetap (fixed mindset) selalu memandang kesulitan atau kegagalan sebagai bencana yang meninggalkan jejak trauma dalam pikiran mereka. Dan bahayanya, bila tidak segera dibunuh, trauma, kekhawatiran dan ketakutan itu akan terus menetap dalam pikiran yang dampaknya bisa membuat Anda frustrasi sepanjang hidup.

Menguak Takdir

Oleh M. Qodari (Direktur Indobarometer)

Membaca naskah buku biografi Isro Umarghani, Wakil Walikota Bontang 2011-2016, is “quite a story” (terjemahan bebasnya: ceritanya menarik). Istilah saya kutip dari Sirikit Syah – penulis terkenal dari Surabaya – yang meminta saya menulis pengantar buku ini.

“Quite a story” karena perjalanan hidup Isro memang cukup dramatis. Dari seorang anak kampung yang tinggal jauh di pelosok Nganjuk, Jawa Timur, meneruskan STM dengan susah payah di Kediri, tidak punya uang untuk melanjutkan kuliah, menjadi buruh di pabrik baja, merantau ke Bontang, Kalimantan Timur, meniti karier dengan tekun di PT Pupuk Kaltim, sampai akhirnya pindah kuadran menjadi anggota DPRD Kota Bontang, dan akhirnya kini menjadi Wakil Walikota Bontang.

Cerita anak dusun yang berhasil jadi orang sukses memang bukan cerita baru, namun setiap kali membaca cerita demikian, tetap saja kita akan terkagum-kagum, turut memanjatkan syukur pada Yang Maha Kuasa, dan mendapatkan inspirasi dan bahkan “pembenaran” darinya. Istilah ‘pembenaran’ ini mungkin akan dirasakan oleh mereka-mereka yang pernah sama-sama mengalami kesulitan hidup, meniti tangga kehidupan, dan mencapai kondisi yang lebih baik, bahkan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dengan kata lain, perjalanan “menguak takdir”.

Kalau dirumuskan, kunci sukses dari seorang Isro Umarghani pada dasarnya ada dua. Yakni kompetensi dan “attitude” (sikap). Dua kunci ini adalah dua aspek yang selalu menandai pencapaian Isro dalam hampir semua tahap kehidupannya. Sebagai seorang anak STM yang hidup sendiri di Kota Kediri, jauh dari rumahnya, Isro berhasil mencapai prestasi akademik yang baik sekaligus mampu menopang biaya hidupnya dengan membantu kawan-kawannya membuat tugas gambar sekolah. Hal ini dimungkinkan karena Isro anak cerdas, tekun, pendiam, dan tidak “neko-neko”.

Dua aspek ini pulalah menjadi dasar dari sukses karier seorang Isro di Pupuk Kaltim. Beruntung, meski bukan sarjana, Isro bisa berkembang karena pada dasarnya pintar, memiliki kemampuan menyerap ilmu yang di atas rata-rata. Tapi pintar saja tidak cukup. Isro juga tekun, sopan¸ mau belajar dan berbagi dengan anak buahnya.

Satu hal lagi, Isro beruntung bertemu seorang atasan di Pupuk Kaltim yang kemudian menjadi mentornya. Atasannya ini (Bapak Arifin) seperti melakukan “talent scout” dan membimbingnya ke jalan kariernya yang lebih baik. Mulai dari belajar ke luar negeri, sampai naik pangkat, ada tangan Pak Arifin di sana. Harus diakui, kehadiran seorang mentor atau talent scouter sangat penting dalam proses perkembangan seseorang. Namun mentor hanya akan datang atau muncul bila seseorang memiliki kompetensi dan sikap yang baik. Isro memiliki itu, maka mentor pun mendatanginya.

Salah satu keistimewaan Isro lainnya adalah religius dan berjiwa sosial. Karena itu, ia aktif di bidang kerohanian Islam, menghidupkan masjid, membangun sekolah Islam terpadu bersama teman-temannya, semuanya demi kemajuan masyarakat di sekitarnya. Dengan latar demikian figur Isro berkembang, tidak hanya sebagai profesional yang berkualitas (yang dibuktikannya di Pupuk Kaltim), tapi juga dalam aktivitas sosial. Aktivitas sosial inilah yang pada gilirannya berakumulasi menjadi modal sosial, kemudian modal politik, sehingga akhirnya ia dilamar partai politik (Partai Keadilan Sejahtera) untuk menjadi caleg dan selanjutnya terpilih sebagai wakil ketua DPRD Bontang.

Baca juga: Wawali Bontang Luncurkan Biografi

Pada awalnya, Isro Umarghani mengalami “gegar budaya”, gegar antara budaya organisasi bisnis profesional seperti Pupuk Kaltim yang disiplin, rapi dan transparan vs budaya organisasi DPRD tidak disiplin, tidak rapi dan kurang transparan. Di sini Isro menunjukkan kualitasnya. Ia tidak larut dengan budaya organisasi DPRD yang ada tapi justru melakukan perombakan (bahasa kerennya “reformasi”) ke dalam tubuh DPRD Bontang. Ia buat anggaran DPRD yang tidak transparan menjadi transparan.

Bukan itu saja, catatan kerja Isro yang terkenal termasuk menolak program pipanisasi gas dari Bontang ke Jawa yang dikenal sebagai Proyek Kalija (Kalimantan-Jawa). Isro menolak dengan dasar analisis bahwa hal itu akan menyebabkan cadangan gas Bontang cepat habis. Apalagi biaya pembuatan Proyek Kalija juga terlalu mahal secara ekonomi. Dalam buku ini diceritakan bagaimana pengalaman dan pengetahuan Isro di bidang teknik sangat membantunya memahami dan menjelaskan persoalan Kalija pada pihak terkait, termasuk pemerintah pusat. Tidak ketinggalan manuvernya yang “selincah kancil” untuk menemui Presiden SBY waktu itu, demi perjuangan menghentikan Proyek Kalija.

Semua prestasi dan kinerja yang baik tadi pada gilirannya tidak hanya membuat Isro terpilih jadi anggota dan wakil Ketua DPRD Bontang kedua kalinya pada 2009. Pada 2010, Adi Darma, mantan Sekda Kota Bontang, mengajaknya maju sebagai wakil walikota Bontang. Dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya pasangan Adi Darma-Isro Umarghani terpilih sebagai Walikota – Wakil Walikota Bontang periode 2011-2016. Isro – anak kampung yang saking miskinnya hingga tidak mampu kuliah itu – kini telah menguak takdirnya yang nyaris tidak mungkin, yakni menjadi wakil walikota di negeri orang!

Lebih dari itu, Isro telah menunjukkan satu hal yang langka tapi ideal, yakni bagaimana seorang politisi seharusnya bekerja dan membawa manfaat bagi rakyatnya. Sebagai politisi, Isro menunjukkan profesionalismenya dalam pengertian yang sebenarnya. Dia mampu mengubah situasi, bukan diubah oleh situasi. Menjadikan DPRD, dan semoga Kota Bontang, menjadi lebih baik. Bila dinyatakan bahwa kaum profesional bisa bermanfaat di jabatan politik, Isro Umarghani adalah contoh terbaik.

Pada akhirnya, apa yang dicapai Isro adalah buah dari segala hal yang pernah dilakukannya. Boleh dikata, Isro Umarghani adalah contoh seorang kader PKS “par excellence”. Kader yang mencerminkan slogan PKS: bersih, peduli, dan profesional. Ia telah bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, lingkungannya dan masyarakatnya.[]

(Tulisan ini dibuat sebagai kata pengantar Biografi “Pohon Harapan”, 2015)

Jasa Ghost Writer Kredibel di Indonesia

Jasa ghost writer? Mungkin ini istilah yang asing bagi sebagian orang. Di Indonesia, ghost writer sering juga disebut sebagai penulis hantu atau penulis bayangan. Tapi bila Anda pernah menonton film Ghost Writer yang dibintangi mantan aktor James Bon 007, Pierce Brosnan, Anda akan sedikit mendapat gambaran apa dan siapa itu si penulis hantu.

Singkatnya, ghost writer adalah penulis yang bekerja untuk dan atas nama orang lain. Biasanya nama ghost writer tidak muncul dalam buku yang dipesan klien (ini tergantung pada kesepakatan keduanya). Jikapun nama ghost writer akan ditampilkan dalam buku, biasanya ditulis sebagai editor atau penyunting. Karena itulah ia disebut penulis hantu, yaitu penulis yang berada di belakang layar. Saya pun mengalami keduanya, kadang nama saya nongol di buku yang dipesan klien, kadang cukup puas tampil di halaman prelims sebagai editor atau penyunting.

Baca juga: Johan Budi dkk luncurkan buku

Tugas Ghost Writer Tidak Sekadar Menulis

Untuk diketahui, pekerjaan penyedia jasa ghost writer tidak sekadar menulis. Dalam banyak hal, ia harus terjun dalam riset lapangan dan literatur. Sekadar contoh, untuk menulis biografi atau otobiografi saya harus berkunjung langsung ke tanah kelahiran sang klien, menemui teman-teman masa kecilnya, saudara atau famili-familinya yang masih hidup. Jika memungkinkan, mengunjungi rumah tempatnya dilahirkan dan bertumbuh. Setidaknya saya akan mewawancara belasan orang narasumber yang ditunjuk klien. Malah pernah mewawancara 31 narasumber untuk 1 buku biografi sekolah.

Riset literatur diperlukan lebih-lebih jika buku yang dipesan klien adalah buku non-fiksi yang berkait keahliannya, misal manajemen, pengembangan diri, pendidikan, gagasan dan implementasinya di perusahaan. Untuk buku non-fiksi setidaknya saya harus membaca sekurang-kurangnya 15-an buku dengan tema dan bahasan seperti yang diinginkan klien. Karena itulah seorang ghostwriter harus memiliki etos pembelajar yang kuat dan cepat sehingga ia menguasai materi buku yang diinginkan klien.

Sebelum memulai menulis, terlebih dahulu seorang ghost writer menggali ide, gagasan atau cerita dari klien dan menangkap pesan utamanya. Setidaknya harus bisa ditangkap; apa targetnya menulis buku. Ini langkah petama dan utama yang segera harus terekam pada pertemuan pertama dengan klien. Dari sana ghostwriter akan memahami tema besar apa yang hendak ditulisnya. Setelah itu ia menuangkannya dalam draft yang berisi rencana bab dan apa yang akan ditulis dalam bab tersebut kemudian mendiskusikannya dengan klien. Pada tahap ini respons dan masukan dari klien sangat penting sebagai peta untuk memulai pekerjaan menulis.

Oleh karena itu seorang Ghostwriter juga dituntut memiliki skil komunikasi yang baik, sebab ia harus bisa menangkap tidak saja ide dan jalan hidup klien tetapi juga gejolak perasaannya, lebih-lebih jika yang ditulis adalah biografi atau otobiografi. Dengan begitu Anda mampu menyajikan tulisan yang autentik seolah ia sendirilah yang mengalami cerita seperti yang dituturkan klien.

Baca juga: Ghostwiter The Untold Stories: Gudang Rahasia Kehidupan Pribadi

Akan halnya jika yang ditulis adalah buku non-fiksi, maka seorang ghostwriter harus cergas menangkap ide besar yang diinginkan klien. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, dari sebagian besar klien yang saya tangani, saat diskusi awal ide-ide mereka masih mentah, kadang tidak konkret. Di sinilah dibutuhkan keahlian sang ghostwriter untuk membantu memperjelas ide tersebut, memilah mana ranting dan cabang ide yang relevan dan mana yang tidak.

Memang, faktanya pekerjaan seorang ghost writer tidak sesederhana seperti kelihatannya; sekadar wawancara kemudian menuliskannya. Pekerjaan dan tanggung jawab ghostwriter jelas lebih rumit dibanding seorang wartawan berita atau konten internet. Ia harus berurusan dengan “isi kepala” sang klien. Belum lagi jika menyangkut kesediaan waktu klien. Karena rata-rata mereka adalah manusia super sibuk, maka seorang ghostwriter dituntut untuk mencari celah kesempatan dan mengumpulkan informasi dari klien secara cepat dan to the point (padat) lalu menjabarkannya ke dalam puluhan bahkan ratusan lembar halaman.

Keterampilan apa yang dibutuhkan seorang ghost writer?

Seorang ghost writer haruslah seorang yang berpengetahuan luas dan kutu buku yang kuat. Anda harus sudah kenyang melahap buku bertema apa saja; manajemen, motivasi, psikologi, sastra, parenting bahkan ilmu pasti.

Mengapa?

Karena dengan pengetahuan yang luas, buku yang Anda tulis memiliki khasanah materi yang luas. Bayangkan jika anda diminta menulis biografi/otobiografi seorang ilmuan fisika. Apa jadinya jika anda tidak mengikuti sejarah perkembangan ilmu fisika, maka buku Anda hanya terkesan sebagai penjabaran sebuah curuculum vitae yang miskin rasa dan Anda akan gagal menampilkan sosok klien sebagai pakar fisika.

Selain wawasan yang luas, tentu saja seorang ghost writer harus memiliki kemampuan menulis yang bagus. Tanpa itu, jangan berharap mendapatkan kepercayaan klien.

Tips meramu buku yang bermutu, silakan baca di sini: Menulis buku untuk personal & profesional branding

Seorang ghostwriter juga harus memiliki bakat luar biasa dalam menangkap suara klien. “Seorang penulis bayangan harus terhubung secara intens dengan cerita atau gagasan klien, sehingga mereka terjalin dalam kerja sama yang baik, ” kata Walter Isaacson penulis biografi Steve Jobs dan Albert Einstein. “Empati memungkinkan seorang ghostwriter memasuki kehidupan kliennya, melihat apa yang mereka lihat dan rasakan seperti yang mereka rasakan.”

Pengguna Jasa Ghost Writer

Klien dari ghost writer umumnya adalah orang-orang yang sibuk— politisi, direktur/CEO, pengusaha, birokrat atau siapapun— yang ingin menuliskan ide, pengalaman atau kisah hidupnya dalam buku, tetapi tidak memiliki waktu atau kemampuan untuk menulis.

Syukurlah, selama jalani profesi sebagai “hantu”, saya berkesempatan mewawancara dan menulis buku klien dari beragam profesi: dokter, pimpinan BUMN, motivator, pengusaha, biroktrat, guru, aktivis sosial, politisi hingga mantan Jubir KPK dan Jubir Presiden.

Wawasan apa lagi yang dibutuhkan agar karier seorang ghost writer terus berkembang?

Anda harus memiliki pemahaman yang luas tentang industri penerbitan. Termasuk pasar, genre dan gaya penulisan. Soal gaya penulisan, kadang-kadang satu klien berbeda dengan klien yang lain. Karena itu biasanya saya akan menunjukkan beberapa portofolio karya saya yang mungkin sesuai dengan selera klien. Klien akan memilih gaya bahasa mana yang dia sukai.

Lihat PORTOFOLIO kami.

Penulis Utama Biograph.id

Sebelum memutuskan memilih jasa ghost writer, hal pertama yang perlu jadi pertimbangan adalah track record penulisnya. Ini penting agar Anda tidak kecewa saat buku yang Anda pesan sudah jadi. Kami pernah menerima klien yang kecewa dengan kualitas tulisan penulis biografi sebelumnya. Dan Alhamdulillah, di tangan kami hasilnya sesuai ekspektasinya. 

Nah, sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa kami, mari berkenalan dengan founder sekaligus penulis utama kami.

Md Aminudin


Dunia sastra Indonesia tentu tak asing dengan nama Md. Aminudin. Sebelum terjun di penulisan biografi, ia telah menerbitkan sejumlah novel berlatar sejarah. Ia mulai dikenal ketika menerbitkan novel dwilogi; Tembang Ilalang I & II, sebuah roman sejarah Indonesia. Pertama kali terbit, novel tersebut segera merebut hati pembacanya sekaligus para kritikus sastra. Sejumlah makalah, skripsi, tesis telah mengangkat novel ini sebagai bahan penelitian, mengingat novel tersebut ditulis dengan riset sejarah selama 3 tahun. 

Prekuel Memoirs of Stientje yang terbit pada 2012 juga memperoleh apresiasi luas dari pembaca. Novel-novelnya mendapat penghargaan di dunia sastra; Novel Terbaik JIBF 2008, Novel Dewasa Terbaik 2008, nominator Pena Award 2009, 2 kali masuk nominasi Fiksi Dewasa Terbaik JIBF Nasional.

Novel petualangannya tentang sejarah Indian Muslim Amerika, Jejak Halefa, yang menampilkan sosok remaja sebagai tokoh utamanya sangat digemari para remaja SMP dan SMA.

Sejak 2013, Md Aminudin mulai melebarkan sayap kepengarangannya. Ia dipercaya oleh Penerbit Jawa Post Grup untuk menulis novel biografi seorang penderita penyakit kronis autoimun yang berjudul Hidup Kedua.

Sejak saat itulah MD. Aminudin mulai banyak terlibat dalam penulisan buku biografi maupun buku populer para publik figur dari beragam profesi dan latar belakang; dokter, pengusaha, guru, dosen, ustadz, profesional, pejabat publik dan politisi. Selain itu, ia juga banyak terlibat sebagai editor tamu dan penulis artikel di berbagai majalah.

Selain Md Aminudin, Biographic juga didukung oleh dua penulis utama lainnya yang juga punya reputasi sebagai ghost writer bagi para profesional di bidangnya. Yaitu; Aziz Muslim dan Soenano, dua penulis yang juga berpengalaman di industri perbukuan tanah air. Selengkapnya lihat: Tim Kami.

Mengapa Penting Melihat Reputasi Penulis?

Karena Anda tidak bisa begitu saja menyerahkan kisah hidup Anda kepada sembarang penyedia layanan jasa Ghost Writer yang belum teruji kualitas dan kredibilitasnya.

Bisa dibayangkan, apa jadinya jika buku yang dihasilkan tidak sesuai dengan ekspektasi? Akan sangat berisiko menyerahkan rangkaian momen yang penting dan bersejarah kepada penulis biografi yang kurang memahami seni penulisan biografi yang baik. 

Baca Juga:

Seperti Apa Jasa Ghost Writer Terpercaya di Indonesia?

Layanan Biograph.id

Selain untuk perorangan, kami juga berpengalaman mengerjakan biografi/penulisan riwayat perusahaan dan lembaga sosial, city branding pemerintah daerah, sejarah kota atau daerah tertentu. Dengan memakai gaya penulisan feature yang mengalir dan layout yang menawan, pastinya buku biografi perusahaan akan lebih menarik ketimbang biografi perusahaan pada umumnya yang cenderung membosankan. 

Selain itu kami juga berpengalaman membukukan ide-ide klien kami dalam buku non-fiksi seperti buku agama, panduan, self-help, motivasi & pengembangan diri, bisnis dan pendidikan.

Selengkapnya silakan baca: Penulisan Buku Populer untuk Personal dan Profesional Branding

Berapa Professional Fee atau Biaya Jasa Penulisan Biografi yang Kami Tawarkan?

Besar kecilnya jasa penulisan biografi yang kami tawarkan tergantung sejumlah hal:

Pertama, berapa jumlah halaman yang klien inginkan.

Kedua, seberapa besar tingkat kesulitan dan kompleksitas materi, literatur yang harus dipajari.

Ketiga, berapa perkiraan nara sumber pendukung yang harus kami wawancara.

Keempat, berapa lama waktu pengerjaannya?

Sejumlah penyedia jasa penulisan biografi mungkin menawarkan harga yang relatif murah dalam ukuran klien. Tapi apakah mereka bisa menjamin hasilnya sesuai ekspektasi? Buku biografi adalah identitas original seseorang, serupa album kehidupan yang akan dibaca rekan, sabahat, keluarga dan generasi mendaang. Karenanya harus ditulis oleh juru kisah yang menguasai seni penulisan cerita.

Karena itu sangat masuk akal bila segelintir penulis biografi memasang tarif fantastis hingga ratusan juta, sebutlah nama Alberthiene Endah. Selain alasan bahwa menulis biografi bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan sembarang penulis, hak cipta karya sepenuhnya berada di tangan klien. Artinya, jika buku tersebut dikomersilkan dan mendapatkan keuntungan karenanya, maka seluruhnya menjadi hak klien. Penulis biografi tidak punya hak apapun atasnya.

Kami menjamin bahwa biaya jasa pembuatan biografi yang adalah rasional dan fleksibel sesuai kebutuhan Anda. Kami selalu terbuka untuk bernegosiasi. Karena bagi kami, kisah inspiratif klien jauh lebih penting buat disebarkan agar lebih banyak pembaca yang tergerak hatinya untuk melakukan perubahan.

Layanan yang kami berikan sudah termasuk:

  • Wawancara
  • Riset lapangan & pustaka
  • Penulisan
  • Editing naskah
  • Layout cover dan isi hingga buku siap cetak
  • Copyright atau hak cipta selamanya milik klien

Dengan sederet portofolio yang kami miliki, bekerjasama dengan kami adalah sebuah pilihan tepat. Kami akan menjadikan buku Anda sebagai monumen berharga yang laik dibaca oleh khalayak dan disimpan sebagai kenangan yang bernilai.

Sebab, seberapa pun briliannya sebuah ide atau seberapapun dramatiknya kisah hidup seseorang, semuanya akan lenyap disapu waktu. Sebab itulah ia perlu dicatat, dibukukan, diabadikan.

Untuk informasi lebih komplet, silakan klik WhatApp kami

atau silakan melihat PORTOFOLIO kami untuk melacak secara lebih jelas contoh-contoh isi buku yang sudah kami tulis.

Melawan Konspirasi Global

Oleh Md Aminudin (novelis, biografer)

Jarum jam menunjuk pukul 09.30 ketika saya sampai di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dari lantai 4 tampak kesibukan khas pelabuhan peti kemas; truk-truk jumbo hilir mudik, alat-alat berat, peranti-peranti raksasa tampak berdiri dengan jemawa.

Sementara gerak crane bagai tangan-tangan raksasa menjumputi peti kemas untuk diturunkan atau dinaikkan ke punggung truk-truk berukuran jumbo tadi. Inilah suasana keseharian pelabuhan peti kemas Tanjung Priok yang disebut-sebut sebagai pelabuhan tersibuk nomor satu di Indonesia.

Pelabuhan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dalam posisinya sebagai gerbang kedaulatan maritim Nusantara. Karena itulah paska Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia segera mengambil-alih pengelolaan Pelabuhan Tanjung Priok karena kita sadar bahwa Tanjung Priok bukan semata objek ekonomi, namun juga simbol kehormatan bangsa sekaligus kedaulatan politik-ekonomi di mata dunia internasional.

Namun, 54 tahun kemudian, tepatnya tahun 1999, pemerintah melakukan privatisasi PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan masa konsesi 20 tahun (1999-2019) kepada Hutchison Port Holding. Jika patuh terhadap konsesi di awal reformasi tersebut, mestinya setahun lagi (2019) JICT kembali menjadi milik Indonesia seutuhnya.

Namun akhirnya kita pun mafhum, impian untuk mengembalikan pengelolaan pelabuhan ini 100 persen kepada anak bangsa pupus pada pertengahan 2014 lalu, ketika RJ Lino yang kala itu memegang kendali tertinggi Pelindo II menandatangani perpanjangan kontrak dengan Hutchison Port Holding.

Tak pelak keputusan yang dinilai grasa-grusu ini menuai protes dari berbagai kalangan yang peduli terhadap marwah bangsa. “Geram”, mungkin ini narasi yang laras untuk menggambarkan kekecewaan para tokoh nasional seperti Rizal Ramli, Bondan Gunawan, Ekonom Bhima Yudistira, dll.

SP JICT, Jalan Panjang Perjuangan

Serikat Pekerja JICT adalah pihak yang paling keras menolak perpanjangan kontrak ini. Sepanjang 2014 hingga hari ini, belasan aksi (demostrasi dan stop operasi) digelar. Tak cuma itu, SP JICT pun rajin menggalang “suara”, berdialog dengan wakil rakyat, juga sejumlah tokoh masyarakat ihwal hari depan aset nasional tersebut. Tujuannya tuggal, membatalkan kontrak HPH atas PT JICT. Tagetnya, mengembalikan pengelolaan pelabuhan peti kemas Tanjung Priok 100 persen ke tangan bangsa sendiri. Suatu cita yang mulia di tengah semakin pudarnya heroisme untuk berdiri di atas kaki sendiri, seperti pernah didengungkan Bung Karno puluhan tahun lalu.

Untuk aksi-aksi tersebut, SP JICT harus “membayar mahal”. Sejumlah aktivisnya diintimidasi, baik secara sembunyi maupun terang-terangan, dituduh sebagai biang kerok aksi-aksi yang melumpuhkan kegiatan ekonomi di Pelabuhan Tanjung Priok, difitnah sebagai penganut komunis, dibilang sebagai musuh negara, dikata-katai sebagai tidak tahu bersyukur.

Peluncuran Buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta

Baca berita: Peluncuran Buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta

Melawan kekuatan besar dalam sebuah korporasi tidaklah enteng risikonya. Kita ingat kasus Marsinah yang hingga kini tak terusut tuntas siapa dalang di balik kematian aktivis buruh itu. Para aktivis JICT sepenuhnya mafhum atas risiko tersebut. Meskipun digencet, dipojokkan, dicoba dibunuh karakternya, namun itu semua justru kian membuat mereka yakin bahwa gerakan mereka yang mengusung tagline “Selamatkan Aset Bangsa” adalah jalan kebenaran.

***

Penolakan perpanjangan konsesi JICT sebenarnya adalah trigger dari berbagai kasus “penggadaian” aset negara kepada pihak asing, seperti yang terjadi pada Freeport dan Indosat. Masyarakat awam mengurut dada, bagaimana bisa bangsa yang sering membanggakan diri sebagai bangsa besar ini begitu tak berdaya mempertahankan aset strategis yang sebetulnya bisa diurus sendiri. Bila memang soalnya adalah kekurangan modal, mengapa tidak ada inisiatif menggalang dana masyarakat untuk mem-buyback aset-aset strategis tersebut?

Sekadar memanggil ingatan kolektif kita bahwa Indonesia pernah memiliki pesawat yang dibeli dari dana patungan masyarakat Aceh pada 1948 lampau. Pesawat jenis Dakota yang kemudian diberi nama Seulawah. Inilah yang kemudian hari menjadi cikal bakal BUMN prestisius; Garuda Indonesia.

Begitulah para pendahulu kita berjuang mati-matian agar negeri yang baru berdiri ini memiliki banyak aset strategis. Maka lahirlah Pertamina, PLN, Telkom, dan tak ketinggalan Pelindo. Pendek kata, bila memang pemerintah mau dan serius, maka mengajak patungan masyarakat untuk membeli kembali aset-aset strategis yang pernah dijual ke pihak asing bukan mustahil disambut gempita. Namun sering kali, soalnya bukan itu. Soalnya adalah oknum-oknum di tubuh korporasi yang niatnya sekadar memburu rente. Di sinilah dibutuhkan keberanian dan ketegasan pemerintah untuk memberangus oknum-oknum penjual negara tersebut.

Pada konteks inilah penolakan perpanjangan konsesi JICT memiliki posisi strategis dalam rangka memberi pendidikan kepada masyarakat ikhwal pentingnya menjaga kedaulatan ekonomi nasional, sekaligus peringatan kepada pengampu kekuasaan di atas sana agar tak semena-mena menjuali aset nasional, lebih-lebih dengan alasan yang kental muatan alibi.

Sebagai catatan, penolakan terhadap akuisisi sejumlah sektor strategis oleh pihak asing, seperti yang terjadi pada JICT seyogyanya tidak dimaknai bahwa bangsa Indonesia “anti asing”. Sebagai bagian dari komunitas global, tentu kita perlu membangun relasi antarkomunitas global, utamanya belajar bagaimana negara-negara maju mengelola aset nasional mereka. Ya, narasi yang mesti kita bangun adalah “belajar”, bukan memberikan kendali dominan kepada pihak asing—apalagi menghamba—sehingga mereka memiliki kesempatan mengeksplotasi habis-habisan kekayaan Indonesia seperti yang dialami JICT.

Namun begitulah kodratnya, setiap perjuangan akan melahirkan pecundang. Hingga ketika buku ini rampung ditulis, masih ada saja pihak-pihak tertentu yang mencoba men-downgrade hasil investigasi sejumlah lembaga resmi pemerintah, Pansus DPR dan BPK RI atas masalah yang dialami JICT dan TPK Koja. Isu-isu baru pun terus dimainkan untuk menjatuhkan, atau setidaknya mengaburkan masalah pokoknya.

Bersamaan dengan ditulisnya Epilog buku ini, di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok, beredar pemberitaan karyawan di kedua pelabuhan peti kemas Jakarta tersebut mendukung Hutchison untuk terus beroperasi mengelola JICT dan TPK Koja hingga 2039.
Tak urung Direktur Central for Budget Analysis (CBA) Ucok Sky Khadafi pun berkomentar, bahwa ada ada indikasi pengerahan kekuatan untuk menyerang bagi siapa saja yang dianggap mengganggu kepentingan asing dalam kasus JICT-Koja.

“Pelabuhan itu kan ada fungsi negara dan pelayanan publik. Jika kasus JICT-Koja dibiarkan berlama-lama dimainkan dalam konflik internal bahaya. Harapannya KPK menyelesaikan ini secara cepat. Kerugiannya ada, pelanggaran hukumnya jelas,” ujarnya, seperti dikutip dari www.tribunnews.com.

Komentar lebih tandas pun dilontarkan Hazris Malsyah, Ketua Umum SP JICT, seperti ditulis wartawan tribunnews. “Hutchison menyebabkan Kerugian negara di kasus kontrak JICT dan Koja hampir Rp 6 triliun dan juga melanggar UU. Kok masih dibela? Ini kan pelecehan kepada DPR dan BPK.” Dengan nada geram, Hazris mengimbuhkan, “Ini pelanggaran hukum dan UU dalam kasus JICT telak. Lucunya mau coba dibargain dan digocek. Kita curiga siapa tokoh yang seolah bisa beli hukum dalam kasus kontrak JICT-Koja? Saran saya KPK segera tangkap oknum pejabat Hutchison yang terlibat kasus JICT-Koja.”

Arkian, demikianlah awal yang belum berujung, dari masalah yang menimpa JICT dan orang-orang di dalamnya. Dengan penuh harap, rakyat Indonesia menunggu agar JICT kembali ke pangkuan Pertiwi.

Ya, selalu ada asa. Hope is being able to see that there is light despite all of the darkness — Desmond Tutu.

Menggapai Sukses Hanya Bermodal Ide

Ide itu serupa magnet yang menarik partikel-partikel besi di sekitarnya.

Setiap sukses memerlukan modal. Ini sudah menjadi hukum baku kehidupan. Kalau pernyataan tersebut dibalik maka hukumnya tidak berubah: Anda tidak akan pernah sukses tanpa memiliki modal. Namun pertanyaanya, apakah yang dimaksud modal itu? Apakah ia melulu berwujud uang atau benda lainnya? 

Jika disebut kata modal, maka asumsi kita akan langsung mengarah ke finansial atau hal-hal lain berwujud benda. Ini juga satu di antara sekian mindset yang merusak keberanian sebagian besar kita untuk memulai sesuatu, bisnis misalnya. Saya punya banyak koleksi cerita teman-teman yang punya ide cemerlang namun setelah berjalan sekian tahun ide tersebut tak pernah berubah dari alam ide ke alam nyata. Alasannya; karena tak punya modal. Padahal sesungguhnya ia sudah menggegam modal yang sangat berharga yaitu ide itu sendiri. 

Ide adalah Magnet

Hari ini, membicarakan modal dalam pengertian finansial seolah tidak lagi relevan. Para miliuner era baru telah membuktikan itu. Banyak perusahaan startup yang pada mulanya dirintis dengan modal keringat, kemudian hari tampil menjadi perusahaan pendatang baru yang amat diperhitungkan. Contohnya Alibaba milik Jack Ma. Dia memulai usahanya dengan modal ide. Lalu ide itu ia jual kepada para investor. Investor tertarik dengan ide yang brilian itu lalu rela mengeluarkan uangnya. 

Jadi, sudah cukup bukti bahwa modal finansial bukanlah yang utama dalam berbisnis, atau impian apa pun. Banyak orang yang mengawali bisnisnya dengan modal pinjaman bank, tak sampai hitungan tahun sudah gulung tikar. Modal pun lenyap tak berbekas. Apa penyebabnya? Karena fondasi bisnisnya adalah uang, bukan ide. Seberapun besarnya modal finansial yang Anda miliki, manakala tidak disokong dengan ide yang menjual maka modal itu akan hangus dalam waktu singkat atau lambat. Padahal inti kesuksesan sebuah impian bukanlah modal finansial, tapi justru impian itu sendiri. 

Ide yang ciamik adalah magnet yang mendatangkan uang, begitulah cara kerjanya. Jangan dibalik.

Sang kreator kehidupan, Allah Swt telah membekali kita serangkaian modal berharga yang tak tergantikan oleh apa pun, bahkan teknologi yang paling canggih. Modal berharga dan paling mahal itu adalah akal. Dengan akalnya, manusia diberi kebebasan untuk berinovasi, merancang, mendesain penciptaan-penciptaan baru dengan berbagai bentuk dan variannya. Salah satu varian itu adalah bisnis. Lalu lahirlah perusahaan-perusahaan Trans Corp, Gramedia, Mizan, Go-Jek, Bukalapak dan lain-lain. Lalu muncullah nama-nama besar di bidang masing-masing; Sandiaga Uno, Chairul Tanjung, Achmad Zaky, Ciputra, William Soerjadjaja dan lain-lain. Mereka semua memulai usaha dengan mengandalkan ide, gagasan, strategi. Karena ide dan strategi yang mereka rancang itu menarik, maka berbodong-bondonglah para pemilik uang menanamkan modalnya di sana. 

Sekali lagi cara kerjanya adalah: Partikel-partikel logam mendekati magnet. Bukan sebaliknya. 

Sebetulnya dengan akal, telah lebih dari cukup bagi manusia memulai impiannya. Sayangnya, selama ini mindset kita terkungkung pada pengertian bahwa modal selalu berarti uang. Anda memiliki kecakapan berkomunikasi dengan baik dan pergaulan yang luas adalah modal. Dengan sentuhan kreativitas plus, seorang yang memiliki skill komunikasi yang baik bisa menjadi konsultan, negosiator, makelar, marketing atau youtuber.

Anda yang memiliki keterampilan yang baik dalam hal menulis, bisa menjadi penulis buku, internet marketer, reviewer produk, dan lain-lain. Kehadiran teknologi berbasis internet yang begitu masif sesungguhnya adalah ladang luas yang membuat semua orang—tanpa terkecuali—untuk sukses di bidang apa saja sepanjang mereka mau menguasai ilmunya. 

Karena itu jangan berhenti berpikir. Maksimalkan otak Anda yang maha dahsyat itu untuk menciptakan ide-ide yang menjual. Cogito ergo aum, kata filsuf Prancis, Rene Descartes. Artinya adalah: “aku berpikir maka aku ada”. Afalaa ta’qiluun, kata Al-Qur’an. Don’t you think?, tidakkah kamu berpikir?

Membangun Etos Perintis

Oleh Isro Umarghani–Direktur Sekolah Asy-Syaamil Bontang

Tanpa pemimpin berjiwa perintis, tak akan ada Muhammadiyah. Persyarikatan itu didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada usia 44 tahun. Ia melabrak kejumudan zamannya lewat pendidikan dengan pola pendekatan baru yang memadukan pendidikan umum dan agama. Sebagaimana umumnya pembaharu, ia pun mengundang kontra. Tapi KH Ahmad Dahlan tetap bergerak menerobos berbagai tantangan demi tercapainya visi hidupnya yang kemudian ditransformasi menjadi visi persyarikatan Muhammadiyah; membumikan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Tanpa orang-orang berjiwa perintis tak akan ada Indonesia. Bayangkan saat itu bangsa kita ditekan penjajahan selama ratusan tahun. Mental sebagai bangsa terjajah sudah terlanjur mengurat-nadi. Karenanya dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang beretos perintis yang mampu mendobrak mental block sebagai bangsa yang kalah. Maka hadirlah Soekarno, Hatta, M Natsir, Mohammad Roem, Hamka dan lain-lain. .Perintis hadir untuk mengakhiri kejumudan, mengeluarkan kelompoknya dari tekanan atau membawanya pada harapan baru. Perintis adalah mereka yang meyakini bahwa selalu ada harapan di balik keputusasaan, selalu ada jalan keluar di balik kebuntuan, selalu ada kemungkinan di balik kemustahilan.

Pada dekade 80-an hingga 2000-an, dunia Barat mengenalkan kita pada konsep kecerdasan baru yang kemudian kita kenal dengan 3Q; spiritual quotient, emotional quotient dan intelektual quotient. Tiga kecerdasan tersebut—dengan berbagai variannya—disebut-sebut sebagai syarat kesuksesan seseorang. Saya sepakat untuk menjadi pribadi unggul, kuncinya ada pada “Q”.

KH. Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari adalah contoh figur pemimpin dengan kadar Q di atas rata-rata. Saya menerjemahkan Q sebagai tiga keunggulan; Qalbu (jiwa, perasaan), Quality (kualitas), dan Quotient (kecerdasan). Bila kita kaji secara lebih mendalam, sebetulnya rumusan itu sudah lengkap disajikan dalam Al-Qur’an dan dibuktikan secara empirik oleh Rasulullah Saw, sahabat serta para pemimpin, pembaharu dan pemikir Islam sesudahnya.

Yang menarik disimak, organisasi-organisasi besar di Indonesia bergerak di dua lapangan yang sama, lapangan pendidikan dan lapangan sosial. Sebut saja Muhammadiyah, NU dan Persis. Ini menandakan para pendahulu kita sadar betul bahwa pendidikan adalah pintu masuk yang paling efektif menuju alam pencerahan. Kata Imam Syafi’i; ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah (hidayah) tidak diberikan kepada orang yang melakukan maksiat.

Karena itulah dalam pandangan saya, peran pendidikan Islam, selain berkewajiban untuk mencetak manusia berakhakul karimah, tak kalah penting adalah mencetak manusia berkarakter perintis (pelopor, pionir) dan reformis (pembaharu/inovator). Itulah yang menjadi concern saya selama 30 tahun ini, baik saya lakukan di lapangan sosial, pemerintahan atau pendidikan.