Terinspirasi Biografi

Pohon harapan1

Buku biografi inilah-Pohon Harapan-yang menginspirasi Raihan, pelajar di Kaltim, berjuang menembus cita-citanya. Ia tercatat sebagai juara nasional Kuis Kita Harus Belajar. “Bagus. Kayak baca novel,” katanya.

Pengalaman menulis novel yang berbasis riset serius, yang tidak sekadar andalkan imajinasi, cukup memberi manfaat kepada saya saat diamanahi menulis biografi sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang & profesi.

Sebagai penyuka kata-kata, saya berusaha memperhatikan setiap pilihan kata (diksi) yang tidak sekadar indah laiknya puisi, tapi juga mengandung makna mendalam sehingga sekali orang membaca biografi tersebut langsung menimbulkan kesan, makna, falsafah. Sebab kata-kata adalah cerminan pengalaman batin seseorang terhadap diri sendiri dan orang lain.

Bagi saya pribadi, seorang penulis biografi mestilah menyukai semua jenis bacaan: agama, politik, bisnis, sejarah, sains, pendidikan, parenting, tasawuf, sastra bahkan kuliner. Mengapa? Karena menulis kisah hidup seseorang tidak akan jauh-jauh dari materi-materi tersebut.

Dalam hal ini saya belajar dari Walter Isaacson, penulis biografi Steve Jobs. Walter enak sekali menulis apa saja. Buku terakhir yang saya baca adalah The Invator, buku yg ulas perkembangan TI dari abad 19 hingga hari ini. Materi yang mestinya bikin pening itu mampu digubah Walter jadi cerita kronik yang selain enak dinikmati tapi juga menimbulkan godaan untuk terus membacanya tanpa jeda laiknya membaca novel thriller yang bikin jatung deg-degan.

Memang menulis biografi, menurut pengalaman, jauh lebih kompleks ketimbang menulis novel, atau jenis buku lainnya. Seorang penulis biografi tidak saja dituntut untuk menguraikan detil kejadian/peristiwa yang dialami klien tapi juga kemampuan menggambarkan suasana perasaannya saat mengalami peristiwa/kejadian tersebut. Karena itulah saat wawancara, penulis mesti memperhatikan dengan saksama intonasi, mimik wajah & bahasa tubuh klien.

Memang sejauh yang saya pahami, menulis biografi bukan sekadar memindahkan pengalaman fisik seseorang ke dalam tulisan, tapi juga pengalaman batiniahnya, spiritualnya. Agar biografi tidak seperti berita di koran yang sekali dibaca langsung dilupa. Segala jenis kerumitan itulah yang menjadi alasan penulis biografi rela dibayar mahal.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com