Tiga Tipe Pemilik Impian. Anda yang Mana?

Biorgraph-id. Disadari ataupun tidak, setiap orang memiliki impian. Sederhana apapun impian itu. Namun tidak semua orang—atau bahkan lebih banyak—yang gagal mencapai impiannya dan memilih menguburnya dalam-dalam. Ada yang berhenti di awal perjalanan, ada yang berhenti di tengah perjalanan, dan ada yang lebih tragis memilih berhenti ketika perjalanannya memburu impian sudah hampir sampai di titik tujuan.

Paul G. Stoltz, PhD., dalam buku Adversity Quotient, mengibaratkan perjalanan menuju kesuksesan itu ibarat perjalanan pendakian. Setiap kita, di sadari maupun tidak, sesungguhnya punya dorongan naluriah untuk menaklukkan puncak gunung (kesuksesan). Dengan kata lain,  semua manusia berkeinginan untuk sukses dalam hidupnya, apa pun jenis kesuksesan itu. Hanya saja ada tipe orang yang segera mengurungkan mimpinya begitu melihat betapa tinggi dan berbahayanya jalur pendakian yang membentang di hadapannya.

Ada juga tipe orang yang sekadar ingin mencoba-coba mendaki, sambil berharap jika di tengah perjalanan menemuia masalah akan ada orang lain yang membantunya. Namun ada tipe orang yang memang sedari awal sudah menyiapkan diri untuk menaklukkan puncak gunung dengan berbagai kemungkinan kesulitan yang dia hadapi. Tipe orang terakhir inilah yang bakal mencapai impiannya secara gemilang.

Tiga Jenis Pemimpi Menurut Paul G. Stoltz

Paul G. Stoltz, PhD, profesor pengembangan diri asal Amerika ini menyebut para pemikik impian itu sebagai pendaki. Ia mengklasifikasikan hal tersebut dalam tiga tipe pendaki.

Mereka yang berhenti (Quitters)

Mereka adalah tipe manusia yang takut tantangan. Karena itulah mereka lebih suka hidup biasa-biasa saja, mengerjakan sesuatu yang minim risiko. Mereka sebenarnya punya bisikan naluriah yang mendorong untuk mendaki, namun mereka tak cukup punya keberanian. Tipe seperti ini hampir mendominasi lingkungan pergaulan kita. Anda bisa survei ke setiap orang yang Anda temui lalu ajukan pertanyaan apakah mereka ingin sukses dalam karier dan impiannya? Saya yakin 100% akan mengggukkan kepala. dari mereka ingin jadi pengusaha, bermimpi punya usaha sendiri ketimbang bekerja di perusahaan orang lain. Ini membuktikan jika sebenarnya dalam diri setiap orang tertanam naluri untuk hidup merdeka menentukan nasibnya sendiri.

Namun pertanyaannya adalah mengapa mereka tetap bertahan di posisinya sekarang dan tak pernah beranjak ke mana pun? “Khawatir” adalah kata yang akan Anda temukan di balik alasan mereka untuk memilih tetap bertahan pada posisinya sekarang. Khawatir pada apa? Khawatir jika usaha mereka akan gagal. Khawatir jika keuangan bulanan mereka akan terganggu setelah resign dan memulai usaha sendiri. Berbagai macam kekhawatiran yang belum dia alami terus menjadi momok yang menghantui hidupnya.

Jika toh kemudian mereka benar-benar terjun di dunia bisnis lalu menemui kegagalan, mereka sudah siap dengan seribu satu alasan sebagai pembenar dari kegagalannya. Alih-alih mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut lalu merumuskan strategi baru, cara baru, kreativitas baru, mereka lebih suka berlindung di balik alasan-alasan yang dia persepsikan sebagai biang keladi kegagalannya itu. Lalu berhamburanlah kata-kata seperti ini:

  • “Saya memang tidak berbakat jadi pengusaha.”
  • “Pantas saja dia jadi pengusaha sukses, lha wong ayahnya punya koneksi orang-orang besar.”
  • “Wajar kalau dia sukses, modalnya unlimited.
  • “Saat ini bisnis sedang lesu, hanya yang punya modal besar saja yang mampu bertahan.

Mereka yang Berkemah (Campers)

Tipe kedua adalah campers. Pada awal perjalanan mereka tampak begitu bersemangat. Namun lambat laun semangat itu padam ketika banyak tantangan yang dihadapi. Mereka memilih berkemah di tengah perjalanan pendakian itu begitu menyadari bahwa jalan yang dia tempuh sangat tidak bersahabat. Mereka merasa cukup puas dengan pencapaiannya.

Di lingkungan kita juga banyak kita temui orang-orang yang seperti ini. Biasanya orang bertipe ini orientasinya adalah kehidupan pribadi dengan lingkaran kecil keluarganya. Mereka cukup puas punya mobil, rumah, dan sedikit tabungan. Tak jarang mereka berlindung di balik terma syukur. “Yah, walaupun tidak sesukses Sandiaga Uno saya cukup bersyukur sudah bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan keluarga saya, sementara masih banyak orang yang kehidupannya jauh di bawah saya.”

Dia terjebak pada pemaknaan yang keliru tentang syukur. Syukur mereka maknai sebagai “puas”. Puas dengan apa yang sudah dicapai meskipun mereka sadar bahwa perjalanan mereka masih jauh dari akhir tujuan. Menurut saya salah satu tanda syukur itu adalah berusaha terus menerus tiada henti. Sampai kapan? Sampai ajal menjemput. Berproses terus-menerus tiada henti sampai tubuh berkalang tanah. Terus berinovasi menciptakan terobosan baru, terus berusaha ambil bagian memecahkan masalah sekitarnya.

Para Pendaki (Climbers)

Climber adalah mereka yang meyakini bahwa mereka mampu menggapai apa yang mereka inginkan. Dorongan keyakinan itulah yang membuat mereka terus bergerak dalam ketabahan, kegigihan, ketekunan dan konsistensi di atas rata-rata. Suatu ketika seorang wartawan bertanya kepada Thomas Alva Edison. “Mr Edison, Anda kan mengalami kegagalan sebanyak 50.000 kali. Apa yang membuat Anda saat itu yakin bahwa pada akhirnya Anda akan mendapatkan hasil?” Jawab Edison, “Saya telah mendapatkan banyak hasil. 50.000 uji coba yang oleh orang lain dianggap sebagai kegagalan itu telah memberi informasi kepada saya bahwa itu tidak berfungsi.”

Bagi mereka tak ada istilah gagal. Yang ada hanyalah informasi bahwa mereka harus belajar dan belajar lagi, mencoba dan mencoba lagi. Mereka selalu punya energi untuk bangkit lagi di tengah kejatuhan yang paling parah sekalipun.

Saat menemui jalan buntu, mereka berusaha mencari jalan alternatif. Saat tubuh terasa capek, mereka jeda sejenak untuk mengumpulkan kekuatan, memusatkan konsentrasi. Mereka gigih belajar dari semua hal. Karena mereka percaya bahwa dengan belajar mereka mereka akan memperoleh pengetahuan baru yang berguna sebagai tambahan bekal untuk mengembangkan kapasitas mereka. Mereka tak pernah kehabisan energi karena mereka tahu sumber energi itu bukan berasal dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Itulah mengapa para pemimpi ini selalu tampak bugar dan antusias, seakan-akan mereka tidak pernah merasa lelah.

Para Pemimpi pun Pernah Lelah

Para pemimpi bukan robot. Ia manusia biasa yang bisa terserang lelah, bosan, bahkan mengalami keraguan. Namun, berbeda dari quitters dan campers, para climber punya kesadaran tersendiri untuk segera bangkit dari seluruh penyakit mental yang bakal menghancurkan mimpinya. Mereka adalah orang yang punya keberanian. Mereka adalah “penganut paham” growth mindset.

Sekali lagi ini memang faktor mindset. Orang-orang yang bermindset tetap (fixed mindset) selalu memandang kesulitan atau kegagalan sebagai bencana yang meninggalkan jejak trauma dalam pikiran mereka. Dan bahayanya, bila tidak segera dibunuh, trauma, kekhawatiran dan ketakutan itu akan terus menetap dalam pikiran yang dampaknya bisa membuat Anda frustrasi sepanjang hidup.

Terinspirasi Biografi

Buku biografi inilah-Pohon Harapan-yang menginspirasi Raihan, pelajar di Kaltim, berjuang menembus cita-citanya. Ia tercatat sebagai juara nasional Kuis Kita Harus Belajar. “Bagus. Kayak baca novel,” katanya. Pengalaman menulis novel yang berbasis riset serius, yang tidak sekadar andalkan imajinasi, cukup memberi manfaat kepada saya saat diamanahi menulis biografi sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang & profesi. … Baca Selengkapnya

Pintar vs Bodoh

biograph.id-Anda mungkin sering mendengar dua kata ini, yaitu pintar dan bodoh. Semasa di bangku sekolah mungkin Anda bukan termasuk anak yang berotak cemerlang di bidang akademik sehingga dihukumi sebagai anak yang memiliki masa depan suram. Jika Anda pernah mengalami hal tersebut janganlah berhati kecil dulu. Penelitian yang dilakukan profesor Amerika ini bisa menjadi rujukan bahwasanya … Baca Selengkapnya