Melawan Konspirasi Global

Oleh Md Aminudin (novelis, biografer)

Jarum jam menunjuk pukul 09.30 ketika saya sampai di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dari lantai 4 tampak kesibukan khas pelabuhan peti kemas; truk-truk jumbo hilir mudik, alat-alat berat, peranti-peranti raksasa tampak berdiri dengan jemawa.

Sementara gerak crane bagai tangan-tangan raksasa menjumputi peti kemas untuk diturunkan atau dinaikkan ke punggung truk-truk berukuran jumbo tadi. Inilah suasana keseharian pelabuhan peti kemas Tanjung Priok yang disebut-sebut sebagai pelabuhan tersibuk nomor satu di Indonesia.

Pelabuhan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dalam posisinya sebagai gerbang kedaulatan maritim Nusantara. Karena itulah paska Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia segera mengambil-alih pengelolaan Pelabuhan Tanjung Priok karena kita sadar bahwa Tanjung Priok bukan semata objek ekonomi, namun juga simbol kehormatan bangsa sekaligus kedaulatan politik-ekonomi di mata dunia internasional.

Namun, 54 tahun kemudian, tepatnya tahun 1999, pemerintah melakukan privatisasi PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan masa konsesi 20 tahun (1999-2019) kepada Hutchison Port Holding. Jika patuh terhadap konsesi di awal reformasi tersebut, mestinya setahun lagi (2019) JICT kembali menjadi milik Indonesia seutuhnya.

Namun akhirnya kita pun mafhum, impian untuk mengembalikan pengelolaan pelabuhan ini 100 persen kepada anak bangsa pupus pada pertengahan 2014 lalu, ketika RJ Lino yang kala itu memegang kendali tertinggi Pelindo II menandatangani perpanjangan kontrak dengan Hutchison Port Holding.

Tak pelak keputusan yang dinilai grasa-grusu ini menuai protes dari berbagai kalangan yang peduli terhadap marwah bangsa. “Geram”, mungkin ini narasi yang laras untuk menggambarkan kekecewaan para tokoh nasional seperti Rizal Ramli, Bondan Gunawan, Ekonom Bhima Yudistira, dll.

SP JICT, Jalan Panjang Perjuangan

Serikat Pekerja JICT adalah pihak yang paling keras menolak perpanjangan kontrak ini. Sepanjang 2014 hingga hari ini, belasan aksi (demostrasi dan stop operasi) digelar. Tak cuma itu, SP JICT pun rajin menggalang “suara”, berdialog dengan wakil rakyat, juga sejumlah tokoh masyarakat ihwal hari depan aset nasional tersebut. Tujuannya tuggal, membatalkan kontrak HPH atas PT JICT. Tagetnya, mengembalikan pengelolaan pelabuhan peti kemas Tanjung Priok 100 persen ke tangan bangsa sendiri. Suatu cita yang mulia di tengah semakin pudarnya heroisme untuk berdiri di atas kaki sendiri, seperti pernah didengungkan Bung Karno puluhan tahun lalu.

Untuk aksi-aksi tersebut, SP JICT harus “membayar mahal”. Sejumlah aktivisnya diintimidasi, baik secara sembunyi maupun terang-terangan, dituduh sebagai biang kerok aksi-aksi yang melumpuhkan kegiatan ekonomi di Pelabuhan Tanjung Priok, difitnah sebagai penganut komunis, dibilang sebagai musuh negara, dikata-katai sebagai tidak tahu bersyukur.

Peluncuran Buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta

Baca berita: Peluncuran Buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta

Melawan kekuatan besar dalam sebuah korporasi tidaklah enteng risikonya. Kita ingat kasus Marsinah yang hingga kini tak terusut tuntas siapa dalang di balik kematian aktivis buruh itu. Para aktivis JICT sepenuhnya mafhum atas risiko tersebut. Meskipun digencet, dipojokkan, dicoba dibunuh karakternya, namun itu semua justru kian membuat mereka yakin bahwa gerakan mereka yang mengusung tagline “Selamatkan Aset Bangsa” adalah jalan kebenaran.

***

Penolakan perpanjangan konsesi JICT sebenarnya adalah trigger dari berbagai kasus “penggadaian” aset negara kepada pihak asing, seperti yang terjadi pada Freeport dan Indosat. Masyarakat awam mengurut dada, bagaimana bisa bangsa yang sering membanggakan diri sebagai bangsa besar ini begitu tak berdaya mempertahankan aset strategis yang sebetulnya bisa diurus sendiri. Bila memang soalnya adalah kekurangan modal, mengapa tidak ada inisiatif menggalang dana masyarakat untuk mem-buyback aset-aset strategis tersebut?

Sekadar memanggil ingatan kolektif kita bahwa Indonesia pernah memiliki pesawat yang dibeli dari dana patungan masyarakat Aceh pada 1948 lampau. Pesawat jenis Dakota yang kemudian diberi nama Seulawah. Inilah yang kemudian hari menjadi cikal bakal BUMN prestisius; Garuda Indonesia.

Begitulah para pendahulu kita berjuang mati-matian agar negeri yang baru berdiri ini memiliki banyak aset strategis. Maka lahirlah Pertamina, PLN, Telkom, dan tak ketinggalan Pelindo. Pendek kata, bila memang pemerintah mau dan serius, maka mengajak patungan masyarakat untuk membeli kembali aset-aset strategis yang pernah dijual ke pihak asing bukan mustahil disambut gempita. Namun sering kali, soalnya bukan itu. Soalnya adalah oknum-oknum di tubuh korporasi yang niatnya sekadar memburu rente. Di sinilah dibutuhkan keberanian dan ketegasan pemerintah untuk memberangus oknum-oknum penjual negara tersebut.

Pada konteks inilah penolakan perpanjangan konsesi JICT memiliki posisi strategis dalam rangka memberi pendidikan kepada masyarakat ikhwal pentingnya menjaga kedaulatan ekonomi nasional, sekaligus peringatan kepada pengampu kekuasaan di atas sana agar tak semena-mena menjuali aset nasional, lebih-lebih dengan alasan yang kental muatan alibi.

Sebagai catatan, penolakan terhadap akuisisi sejumlah sektor strategis oleh pihak asing, seperti yang terjadi pada JICT seyogyanya tidak dimaknai bahwa bangsa Indonesia “anti asing”. Sebagai bagian dari komunitas global, tentu kita perlu membangun relasi antarkomunitas global, utamanya belajar bagaimana negara-negara maju mengelola aset nasional mereka. Ya, narasi yang mesti kita bangun adalah “belajar”, bukan memberikan kendali dominan kepada pihak asing—apalagi menghamba—sehingga mereka memiliki kesempatan mengeksplotasi habis-habisan kekayaan Indonesia seperti yang dialami JICT.

Namun begitulah kodratnya, setiap perjuangan akan melahirkan pecundang. Hingga ketika buku ini rampung ditulis, masih ada saja pihak-pihak tertentu yang mencoba men-downgrade hasil investigasi sejumlah lembaga resmi pemerintah, Pansus DPR dan BPK RI atas masalah yang dialami JICT dan TPK Koja. Isu-isu baru pun terus dimainkan untuk menjatuhkan, atau setidaknya mengaburkan masalah pokoknya.

Bersamaan dengan ditulisnya Epilog buku ini, di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok, beredar pemberitaan karyawan di kedua pelabuhan peti kemas Jakarta tersebut mendukung Hutchison untuk terus beroperasi mengelola JICT dan TPK Koja hingga 2039.
Tak urung Direktur Central for Budget Analysis (CBA) Ucok Sky Khadafi pun berkomentar, bahwa ada ada indikasi pengerahan kekuatan untuk menyerang bagi siapa saja yang dianggap mengganggu kepentingan asing dalam kasus JICT-Koja.

“Pelabuhan itu kan ada fungsi negara dan pelayanan publik. Jika kasus JICT-Koja dibiarkan berlama-lama dimainkan dalam konflik internal bahaya. Harapannya KPK menyelesaikan ini secara cepat. Kerugiannya ada, pelanggaran hukumnya jelas,” ujarnya, seperti dikutip dari www.tribunnews.com.

Komentar lebih tandas pun dilontarkan Hazris Malsyah, Ketua Umum SP JICT, seperti ditulis wartawan tribunnews. “Hutchison menyebabkan Kerugian negara di kasus kontrak JICT dan Koja hampir Rp 6 triliun dan juga melanggar UU. Kok masih dibela? Ini kan pelecehan kepada DPR dan BPK.” Dengan nada geram, Hazris mengimbuhkan, “Ini pelanggaran hukum dan UU dalam kasus JICT telak. Lucunya mau coba dibargain dan digocek. Kita curiga siapa tokoh yang seolah bisa beli hukum dalam kasus kontrak JICT-Koja? Saran saya KPK segera tangkap oknum pejabat Hutchison yang terlibat kasus JICT-Koja.”

Arkian, demikianlah awal yang belum berujung, dari masalah yang menimpa JICT dan orang-orang di dalamnya. Dengan penuh harap, rakyat Indonesia menunggu agar JICT kembali ke pangkuan Pertiwi.

Ya, selalu ada asa. Hope is being able to see that there is light despite all of the darkness — Desmond Tutu.

Terinspirasi Biografi

Buku biografi inilah-Pohon Harapan-yang menginspirasi Raihan, pelajar di Kaltim, berjuang menembus cita-citanya. Ia tercatat sebagai juara nasional Kuis Kita Harus Belajar. “Bagus. Kayak baca novel,” katanya. Pengalaman menulis novel yang berbasis riset serius, yang tidak sekadar andalkan imajinasi, cukup memberi manfaat kepada saya saat diamanahi menulis biografi sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang & profesi. … Baca Selengkapnya

Pintar vs Bodoh

biograph.id-Anda mungkin sering mendengar dua kata ini, yaitu pintar dan bodoh. Semasa di bangku sekolah mungkin Anda bukan termasuk anak yang berotak cemerlang di bidang akademik sehingga dihukumi sebagai anak yang memiliki masa depan suram. Jika Anda pernah mengalami hal tersebut janganlah berhati kecil dulu. Penelitian yang dilakukan profesor Amerika ini bisa menjadi rujukan bahwasanya … Baca Selengkapnya

Menerobos Kemustahilan

biograph.id–Banyak yang menahan nafas seteleh membaca kisah inspiratif pengusaha muda ini. “Oh ternyata masa kecil Anda dulu memprihatikan banget, ya?” Kisah hidupnya memang amat dramatik. Umur 2 tahun sudah berpisah dari bapak kandungnya. Dari pelosok Cianjur, ia dibawa transmigrasi oleh sang ibu, bersama kakaknya yang selisih usianya 2 tahun. Kehidupan sebagai kaum transmigran tak banyak … Baca Selengkapnya

Self Leadership

Tahukah kamu siapa motivator terhebat di muka bumi ini, yang bisa mengantarkan kita menggapai sukses di bidang apapun? Sosok motivator itu tak pernah jauh dari diri kita, selalu sedia membimbing kapan saja kita mau. Motivator hebat itu adalah: DIRI KITA SENDIRI. Pada dekade 1980-an, Charles C. Manz memperkenalkan satu teori yang kemudian dikenal sebagai self-leadership. … Baca Selengkapnya

Wajar Jika Mereka Sukses (bag 1)

Ada dua kegemaran yang saya lakoni sejak 9 th lalu. Pertama membaca buku biografi orang sukses. Kedua, menulis biografi orang sukses. Yang pertama saya belajar tentang pengalaman. Yang kedua lantaran honornya, he..he… just kidding. Honor saya anggap sebagai uang lelah atas kerja keras. Semua tahu, tak mudah menerjemahkan ide, pengalaman & pikiran orang lain ke … Baca Selengkapnya

Ghostwiter The Untold Stories: Gudang Rahasia Kehidupan Pribadi

Profesi sebagai ghostwriter menghantarkan saya pada banyak pengalaman berinteraksi dengan sejumlah manusia dari beragam latar belakang, karakter dan keinginan. Dari mereka saya memperoleh satu pengertian bahwa hidup manusia itu memang penuh warna. Seperti halnya pengalaman berikut. “Saya sendiri yang akan carikan beliau istri kedua,” ujar istri pengusaha tajir itu dengan sungguh-sungguh, sesaat sebelum membedah buku … Baca Selengkapnya