Kita adalah Produk dari Apa yang Kita Pikirkan

Sumber: Wikipedia

Biograph.id–Di balik kata-kata ada energi. Di balik kalimat ada kode-kode rahasia yang tak tampak namun punya pengaruh nyata dalam kehidupan manusia. Sebab itulah Allah menurunkan firmannya lewat medium kalimat. Bukankah Kitabullah seratus persen isinya kata-kata? Dan seratus persen isi Al-Qur’an tersebut adalah afirmasi positif bagi manusia, tak ada satupun ayat yang hoax. 

Berdasar keyakinan seperti itulah dalam banyak hal, dalam beragam kondisi, saya lebih memilih menggunakan kalimat dan kata-kata positif untuk mengafirmasi diri sendiri. Afirmasi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yang secara harfiah diartikan sebagai penegasan atau penguatan. 

Setting afirmasi menjadi penting karena pikiran bawah sadar 88% mempengaruhi pikiran, perasaan, perilaku, dan keputusan yang dibuat. Memilih dan merangkai kata-kata yang berdaya akan mempengaruhi pikiran seseorang untuk lebih berdaya. Ketika pikiran sudah berdaya, maka pilihan perilaku dan kegiatannya pun pasti akan mengarah pada hasil yang maksimal.

Karena itu saya sendiri lebih senang menyebut kesulitan akibat krisis pandemi ini—atau krisis apapun—sebagai TANTANGAN. 

Coba, sekali lagi perhatikan dan rasakan dua kalimat ini; kata “kesulitan” dan “tantangan”.

Kalimat pertama akan terdengar mengkhawatirkan, mencemaskan dan terkesan seperti jalan buntu. Kalimat kedua terdengar heroik dan menyulut nyali untuk menaklukkannya. 

Inilah yang saya maksud afirmasi. Pada bagian inilah sekali lagi, paradigma kita dalam memandang suatu persoalan sangat mempengaruhi tindakan kita dalam merespons persoalan tersebut. Ketika paradigma kita memandang pandemi ini sebagai bencana dan kesulitan, maka secara kejiwaan kita akan merasa kecil dan tak berdaya dibuatnya. Namun jika kita menempatkannya sebagai tantangan, maka otak kita akan memproduksi hormon adrenalin yang membuat jiwa diselimuti keberanian.

Pikiran Tidak Bisa Berbohong

Para pakar perilaku mengatakan, semua tindakan manusia bermula dari pikiran. Ketika pikiran dijejali materi-materi negatif, maka tindakan yang lahir olehnya pun juga tindakan negatif. Pendek kata, apa yang dilakukan manusia selaras dengan apa yang sering dipikirkannya. Manusia tidak bisa membohongi pikirannya sendiri. 

Jalan pikiran kita juga dipengaruhi oleh memori yang berulang-ulang kita rekam dalam ingatan hingga kemudian membentuk perilaku berpikir. 

Bayangkan suatu malam Anda berjalan di gang delap. Tiba-tiba muncul sosok berpakain putih-putih seperti pocong yang kerap Anda lihat dalam film-film horor Indonesia. Orang yang sebelumnya suka hal-hal yang bersifat tahayul, suka nonton tayangan horor, akan langsung lari terbirit-birit; memori dalam otaknya yang berisi gambar horor mendorongnya untuk sepontan lari. Tapi orang yang tidak percaya pada hal-hal tahayul, pikirannya akan segera bekerja secara rasional. Ia tak percaya hantu, memedi atau pocong karena memang keyakinan yang tertanam dalam memorinya selama ini menolak hal itu. Dan ternyata benar, bayangan putih-putih itu seorang kakek-kakek yang baru saja pulang dari masjid. 

Orang pertama dituntun oleh pikirannya yang ternyata tidak benar. Ia terkelabuhi, tertipu oleh bayangan buruk dalam pikirannya sendiri. Orang kedua juga dituntun oleh pikirannya. Bedanya, karena selama ini ia biasa berpikir rasional, maka ketika menghadapi kejadian paling mengejutkan sekalipun pikirannya tetap mampu bekerja secara rasional. 

Contoh kejadian di atas menegaskan bahwa pikiran mempengaruhi persepsi. Persepsi adalah proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan oleh seorang individu (Gibson & Donely, 1994 : 53), selain itu persepsi juga dipahami sebagai sebuah proses menerima, menyeleksi, mengoragnisasikan, megartikan, menguji, dan memberikan reaksi kepada suatu objek, peristiwa atau permasalahan (Linda, 1998 : 248). Sederhananya persepsi itu kacamata yang dipakai seseorang dalam memandang sebuah objek. Objek tersebut bisa berupa benda yang dapat diindera atau yang tidak dapat diindera namun berdampak pada dirinya. 

Beda Kacamata, Beda Kesan 

Dalam memandang satu masalah, orang A bisa berbeda dengan orang B. Dalam menghadapi pandemi, seorang yang biasa mengaji ayat-ayat Al-Quran, membaca atau mendengarkan kisah-kisah berhikmah akan beda persepsi dari orang yang dalam memorinya tak pernah atau jarang disentuh kisah-kisah berhikmah. Orang yang dekat dengan Allah akan melihat musibah apapun dengan kacamata positif; bahwa musibah ini datangnya dari Allah dan Allah pasti sudah melengkapinya dengan jalan keluar. 

Perbedaan kaca mata itulah yang kemudian menentukan persepsi keduanya. Orang pertama akan cenderung ketakutan, cemas berlebihan, sibuk mencari kambing hitam dan terus menerus menyalahkan keadaan. Setiap saat hatinya gelisah, galau, merana dan merasa tak berdaya menghadapi kenyataan. Sinyal dari hati lalu merambat ke pikirannya. Pikiran itulah yang kemudian menghasilkan tindakan. Tentu saja orang yang memakai kacamata negatif akan selalu memandang objek masalah yang dilihatnya sebagai negatif belaka. Dan sudah pasti hidupnya jauh dari produktivitas karena ia hanya fokus pada masalah. 

Tapi orang kedua akan cenderung tenang, banyak zikir, introspeksi, merenung, belajar dan berlatih lebih giat untuk menguatkan saraf-saraf skilnya. Ia sanggup menghibur dirinya sendiri dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang jadi sumber keyakinannya bahwa di dalam kesulitan ada kemudahan. Ia mencoba mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Setelah berhasil menenangkan jiwanya, pikirannya akan bergerak secara aktif. Dari sinilah lahir terobosan, solusi dankreativitas baru yang bahkan belum terpikirkan saat keadaan masih normal. Keadaan seburuk apapun tak mempengaruhi produktivitasnya untuk berkarya. Dengan paradigma positif itu, ia bisa meropong peluang meskipun peluang itu sekecil lubang jarum, hal yang tak pernah bisa dilihat oleh orang pertama dengan paradigma sempitnya. 

Amir Faisal, dalam buku Menang Melawan diri Sendiri menguraikan, paradigma adalah sudut pandang atau persepsi seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhi seseorang dalam berpikir dan bertindak secara keseluruhan. Ketika kita mendengar informasi yang berjubelan mengenai dampak pandemi Corona terhadap dunia kesehatan, sosial dan bisnis maka persepsi kita tentang situasi yang amat buruk itu akan mempengaruhi sikap dan respons kita. Kita pun menjadi paranoid berlebihan. 

Waspada dan hati-hati itu sehat selama berada dalam takaran yang cukup. Tapi ia akan berubah mematikan bila sudah bermetamorfosa menjadi paranoida. Maka memandang masalah dengan paradigma yang benar menjadi penting agar hidup kita tidak terjebak pada pola pikir dan pola perilaku yang meleset. Ibarat kacamata yang kita kenakan sesuai ukuran kadar plus-minusnya, demikian juga paradigma. Ketika kita memandang suatu masalah dengan paradigma yang tepat maka hidup kita akan tepat sesuai goal yang kita inginkan. 

Kita semua sama-sama punya rasa takut, keraguan dan merasa tidak yakin. Hal yang membedakan adalah dalam hal bereaksi mengatasi perasaan tersebut. Perbedaan respon itulah yang menyebabkan seseorang memilih jalan hidupnya masing-masing (Robert T. Kiyosaki).

Paradigma adalah produk mental yang mempengaruhi jalan hidup kita. Oleh karena itu yang mesti kita lakukan adalah memeriksa, membongkar dan mengoreksi paradigma negatif lalu mengubahnya—jika perlu dengan paksa—dengan paradigma positif. Paradigma terbaik tentu saja adalah paradigma yang bersumber dari Al-Quran karena ia berasal dari perkataan langsung Allah Swt.