Sederhana Memandang Harta

Konsep Simplicity ala Misbahul Huda

biographic.id–Kematian pesohor hollywood, Robin Williams pada Agustus 2014 silam begitu mengagetkan jagad perfilman Internasional. Aktor yang terkenal lewat film Mrs Doubtfire dan Good Will Hunting ini di temukan gantung diri di kediamannya yang super mewah. Kematian komedian yang diduga karena depresi tersebut menambah daftar panjang pesohor dunia yang memilih mengakhiri hidup dengan sad ending. 

Robin Williams tentu bukan orang sembarangan dalam dunia perfilman Internasional. Prestasinya di dunia akting tak diragukan lagi; pernah meraih Oscar, Gonden Globe dan Grammy Award. Pada tahun 2012, tercatat kekayaannya mencapai USD 130 juta atau sekitar 1,8 triliun. Namun toh ia tak bahagia. Dua kali menikah dan semuanya berakhir dengan perceraian. Dan kisah hidupnya ditutup dengan kematian yang tragis. 

Ironis memang. Tapi itulah faktanya. Banyak orang yang memiliki harta melimpah, rumah yang besar, kendaraan mewah namun kehidupan mereka terhimpit dalam kesedihan dan ketakbahagiaan. Sebaliknya, tak sedikit yang hidup dalam kekurangan namun sanggup hidup dalam damai dan ketentraman. 

Lalu bagaimanakah seharusnya keluarga muslim memandang harta? “Harta hanyalah sarana hidup. Jika orang menganggap harta sebagai tujuan, maka itulah awal bencana hidup,” Ir H Misbahul Huda MBA, direktur sejumlah perusahaan ini membuka uraian. Ia melanjutkan, “Harta itu adalah amanah, maka perlakukanlah harta itu di tangan, janganlah sampai masuk dalam hati. Artinya harta itu diterima dengan tangan dikelola dengan tangan dan pada saat dilepas pun dilepas dengan tangan, tidak dilepas dengan hati.”

Misbah melanjutkan, karena harta adalah barang titipan maka sebagai seorang muslim, kita harus pandai-pandai menjaga titipan tersebut. Pertama-tama dengan cara memuliakan yang menitipkan harta, yaitu Allah, melalui ketaatan yang termanifestasi dalam ibadah. Selanjutnya menafkahkan harta itu hanya di jalan yang dikehendaki Allah. Harta, adakalanya memang memabukkan dan melenakan. Oleh karena itu setiap muslim harus selalu waspada, menjaga perilakunya dari penghianataan kepada Sang Pemberi Amanah sehingga mengundang murka-Nya. Wujud pengkhianatan itu misalnya, membelanjakan harta untuk barang-barang haram, berlaku bakhil, atau hidup bermewah-mewah di luar kewajaran. Karena sesungguhnya, di balik harta ada ujian keimanan. 

Karena itu pria yang pernah majabat komisaris PT Garam ini mengatakan bahwa setiap keluarga harus memiliki visi yang sama, yaitu pengabdian total kepada Allah, seperti tercermin dalam surat al-Fatihah yang diikrarkan setiap shalat; Iyyakana’budu wa iyya kanasta’in“Jika sebuah keluarga memiliki sesembahan selain Allah, maka Allah akan menyingkir dari kehidupan keluarga tersebut,” demikian ayah enam anak ini memperingatkan. Jika sebuah keluarga sudah kehilangan campur tangan Allah, maka kehancuran keluarga tersebut tinggal menunggu waktu, seperti yang dialami para pesohor. Tak bisa dimungkiri, di balik harta ada ada bencana yang mengintai bila seseorang tak pandai mengelolanya. 

Konsep Simplicity dalam Keluarga

Secara lebih jauh mantan Direktur Utama PT JePe Press Media Utama ini menjabarkan bagaimana seharusnya seorang muslim mengelola hati dan jiwanya sehingga selamat dari bencana harta. Dalam kaitan ini, anak, seringkali menjadi sumber masalah. Tak jarang, orangtua sudah berikhtiar membangun persepsi positif bagaimana memandang harta, namun karena pengaruh lingkungan persepsi tersebut tidak sesuai dengan pola pikir anak. 

Bagi suami Dra. Herlina Fauziah ini, orangtua sangat berperan dalam membentuk pola pikir anak-anak terhadap harta. Diakuinya, di era yang serba canggih ini tugas orangtua semakin berat dalam mendidik anak-anaknya dari ancaman virus materialisme yang bertebaran di sekeliling mereka. 

Untuk membentengi keluarga dari virus hedonisme, Misbah, panggilan karibnya, menerapkan konsep simplicity bagi seluruh anggota keluarga.Saya melatih keluarga sedini mungkin agar tidak bergantung kepada harta dengan konsep simplicity yaitu konsep menanamkan kesederhanaan.” Menurutnya, kesederhanaan akan menjadikah kehidupan seseorang terasa ringan; pada saat berada di bawah ia tidak merasa berat, dan pada saat di puncak karir ia juga merasa sederhana.

Kepada anak-anaknya, Misbahul Huda menerapkan konsep ini sejak sedini mungkin, agar kesederhanaan menancap dalam sanubari dan menjadi gaya hidup mereka. “Sejak kelas dua SD, anak-anak sudah harus berangkat sekolah dengan sepeda kayuh, walaupun dia harus rela disalip adiknya yang masih TK yang diantar dengan mobil,” kisahnya memberi contoh. Menurutnya, konsep ini amat penting agar mereka belajar bagaimana hidup dalam kesederhanaan walaupun fasilitas keluarga sangat mendukung. Dengan begitu, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri sekaligus tak sombong.

Hasilnya, didikan kesederhanaan ini terus membekas dalam kehidupan anak-anaknya hingga dewasa. “Pada saat anak-anak saya menginjak bangku kuliah, mereka saya tawari untuk mengendarai mobil karena jaraknya memang cukup jauh. Namun anak saya tidak mau, lebih enak naik motor, katanya.”

Bahagia Dalam Keterbatasan

Setiap manusia senang dengan harta, tak terkecuali, siapa pun dia. Ini adalah perasaan manusiawi yang dihadirkan Allah kepada setiap manusia, sebagaimana termaktub dalam surat Ali Imran ayat 14, dimana harta benda dan hal-hal lain yang bersifat fisik lainnya adalah sumber kesenangan bagi manusia selama hidup. 

Namun bagaimana jika ternyata sebuah keluarga harus hidup dalam serba kekurangan? 

“Sesungguhnya kekurangan atau musibah yang kita alami sejatinya adalah rahmat yang terbungkus kesulitan dan ketidakenakan. Kitalah yang harus membukanya agar dapat terlihat nikmat dan hikmah yang tersembunyi di dalamnya,”urai Misbah.

Selanjutnya Misbah mengutib pesan imam abu Athoillah; janganlah seperti anjing yang sibuk bergumul dengan kayu atau tulang yang dilempar tuannya. Sebagai insan terpilih janganlah sibuk dan terpaku dengan masalah atau musibah, tapi mendekatlah kepada Allah sang pemilik musibah yang punya solusinya.

Untuk menjelaskan bagaimana seseorang harus bersikap terhadap kekurangan dan kesulitan yang menimpa manusia, Misbah mengutib ujaran dalam bukunya Always on Top, Kiat Menjaga Stamina Sukses. Ketika tiba-tiba ada seorang gadis melempar permen kepada seorang pemuda, ke mana pusat perhatiannya; terpaku dengan permennya atau bergegas menghampiri pelemparnya? Pemuda yang “cerdas” pastilah akan menghampiri gadis pelemparnya. Karena lemparan itu hanya alasan untuk meminta perhatian.

“Demikian pula Allah. Dengan rahmat-Nya sering melempar masalah atau musibah untuk meminta perhatian kita. Karena itu jangan salah langkah, jangan sibuk berkutat dengan masalah, tetapi hadapilah dan berdamai dengan masalah, sambil mendekat dengan Sang Pemilik masalah, Allah Swt. Akseslah Allah dalam setiap tarikan nafas kita, mintalah kekuatan dari-Nya untuk bersama-Nya menghadapi masalah,” satu komisaris sebuah BUMN yang bergerak di bidang perkebunan ini menutup uraiannya.

Kebahagiaan sejati seorang manusia ditentukan dalam perasaan senang ketika ia dapat melimpahkan kasih sayang kepada orang yang dicintainya, kepada keluarganya. Cinta menemukan bentuk ekspresinya yang paling alami dan spontan dalam memberi. Begitulah potret seharusnya seorang muslim bersikap terhadap harta yang dimilikinya, banyak atau sedikit.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com