Saat Perempuan Harus Berperan Ganda

perempuan
Walaupun bekerja keras menjual jasa Setrika Keliling ibu ini tetap istiqomah berhijab syar'i meski panas sinar matahari menyengat.  Semoga Allah limpahkan rizkiNya yang luas untuk ibu ini. Aamiin  . .  Follow @indonesiamenutupaurat @indonesiamenutupaurat . .  #Tag Sahabatmu Semoga menjadi Motivasi . . .  Sumber #KartunMuslimah
inlustrasi: Pinterest

Tuntutan zaman dan berbagai kebutuhan hidup yang terus meningkat dari waktu ke waktu, kadang-kadang membuat kaum ibu harus terlibat bersama suami mencari nafkah. Mau tak mau, kenyataan ini membuat beberapa kaum perempuan terpaksa harus mengambil peran ganda; sebagai istri, ibu dan pekerja. Bahkan di kota-kota besar, ibu yang bekerja sudah menjadi fenomena yang jamak. Bagaimana dunia psikologi memandang fenomena ini?

Secara fisik, perempuan jelas berbeda dengan laki-laki. Dari segi biologis pun, menurut C. Davison Ankney dan Rushton pada sebuah studi yang dipublikasikan tahun 1992 di Universitas Ontario menyebutkan, bahwa otak laki-laki memiliki 100 gram lebih berat dari otak perempuan. Perbedaan berat otak inilah yang umumnya memiliki spesifikasi kemampuan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Lalu, bagaimana padangan dunia psikologi atas perbedaan mendasar dari makhluk Allah yang bernama manusia tersebut? Nadia Attuwy, psikolog asal Surabaya menjelaskan, “Perbedaan mendasar laki-laki dan perempuan terletak pada pola pikir, cara komunikasi dan cara mereka menyelesaikan persoalan.”

Lanjut Nadia, ruang pikiran laki-laki memiliki banyak space untuk bisa menampung berbagai masalah yang rumit, sehingga mereka bisa cepat menemukan solusi dengan logikanya yang brilian. Berbeda dengan perempuan yang memiliki peta pikiran yang cukup rumit. Bila kaum Adam bisa memahami peta masalah dengan lebih strategis dan bisa menemukan jalan pintas, maka pada wanita sebaliknya. Wanita lebih sulit menemukan jalan pintas dan lebih suka melewati jalan biasa walaupun mungkin harus menempuh rute yang jauh. Dengan kata lain, wanita lebih suka memilih jalan penyelesaian masalah yang minim risiko.

Dalam hal teknis menyelesaikan persoalan, terutama beban yang rumit dan besar, seorang lelaki lebih suka memendamnya sendiri, sembari merenung mencari solusi. Sementara perempuan lebih suka berbicara (curhat) untuk menenangkan pikirannya. Termasuk dari cara berkomunikasi, ada perbedaan mencolok pada keduanya. Dalam sehari perempuan memakai 20.000 kata, sementara laki-laki sekitar 7.000 kata. Dampak dari cara komunikasi ini adalah, perempuan mampu mengolah kata dengan baik, memiliki empati yang tinggi. Perempuan juga mampu mengerti bahasa tubuh seperti apa yang pas ketika berhadapan dengan lawan bicaranya. Sementara laki-laki sulit menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya, sehingga dalam berkomunikasi laki-laki cenderung menggunakan logika tanpa mengolah kata-kata agar enak didengar.

“Umumnya, perempuan melakukan sesi curhat ketika pikirannya tidak dapat lagi membendung permasalahan. Namun, laki-laki berkebalikan. Laki-laki lebih suka curhat ketika ia telah sukses menemukan solusinya,” tutur alumnus psikologi Universitas Surabaya itu.

Perempuan dengan pemetaan pikirannya yang rumit menjadikannya makhluk yang gampang sekali mengungkapkan isi hatinya, terutama ketika menghadapi persoalan. Padahal, dengan banyak curhat, ia akan semakin bingung menentukan keputusan karena saking banyaknya saran yang ia terima. Hal demikian menjadi biasa karena perempuan memang lebih suka mencari aman.

“Berbeda dengan laki-laki, mereka lebih maskulin dalam menyelesaikan persoalan. Laki-laki sangat memperhatikan performa ketika ada masalah. Yang demikian itu sangat menyentuh dunia maskulinnya,” tambah Nadia memperjelas perbedaan sifat antara lelaki dan perempuan.

Segudang Peran Kaum Hawa

Namun, di balik “sisi lemah” tersebut, pada diri kaum hawa tersimpan energi luar biasa dalam memikul berbagai tanggung jawab yang diembannya. Pada fitrahnya, perempuan memiliki beban yang berat dan besar terlebih ketika ia sudah menjadi ibu. Seiring perkembangan zaman peran perempuan pun juga berkembang. Jika pada masa lalu, kegiatan istri hanya sekitar lingkungan rumah, kini karena berbagai alasan, kadang-kadang istri harus terlibat membantu suami mencari nafkah di luar rumah.

Dalam kaitan ini, secara psikologis perempuan memang lebih sanggup melakukan berbagai tanggung jawab dalam waktu hampir bersamaan. Dalam dunia teknologi, multiperan ini disebut multitasking.

“Multitasking adalah melakukan beberapa kegiatan dalam satu waktu sekaligus. Misalnya, perempuan bisa memasak sembari mengurus anak dan mencuci pakaian. Jangan harap laki-laki bisa berbuat hal yang sama seperti perempuan,” jelas Nadia.

Hasrat untuk bekerja meskipun telah berkeluarga, adalah hal yang lumrah bagi perempuan. Karena sejatinya, setiap orang memiliki empowering untuk berdiri sendiri. Perempuan yang merasa memiliki potensi dan peluang akan cenderung berkeinginan untuk menyalurkannya. Jika dikerjakan sesuai porsinya, bukan hal yang mustahil bagi perempuan untuk berprestasi di rumah maupun dalam pekerjaanya.

Dalam kaitan ini, Nadia mengingatkan soal manajemen waktu, pikiran serta emosi. Waktu selalu berkaitan dengan fisik; mengambil beban tanggung jawab yang terlalu berat hingga overload sangat tidak disarankan. Sementara konsetrasi diperlukan untuk memikirkan bagaimana tujuan atau target-target yang harus dicapai. Dan emosi diperlukan untuk mengatur sikap yang harus disesuaikan dengan tempat atau lawan bicara.

“Sederhananya, waktu dibutuhkan untuk mengatur keberadaan fisik seseorang. Jika waktu bermasalah maka pikiran dan emosi juga bermasalah. Begitu pula jika pikiran dan emosi tidak stabil maka akan berdampak pada seseorang yang jasadnya sedang bertamasya dengan keluarga, namun pikirannya di kantor dan emosinya tampak tidak menyenangkan,” kata Nadia.

Ketika status seorang perempuan meningkat menjadi istri dan ibu, seiring itu pula kegiatannya akan semakin padat; mengurus diri sendiri, pekerjaan rumah tangga, kebutuhan anak-anak dan istri. Belum lagi jika ia juga berstatus sebagai pekerja atau karyawan. Kesemuanya jelas menguras energi pikiran dan fisik, sehingga memerlukan keterampilan untuk mengelolanya agar masing-masing peran berjalan seimbang tanpa ada yang dikorbankan.

“Memang, berbagai perang tersebut gampang membuat kaum hawa mudah stres, dan tidak stabil emosinya,” tegas Nadia.

Memang tidak gampang menjalani tiga peran sekaligus, yaitu sebagai istri, ibu dan pekerja. Apabila mereka tidak pandai memanajemen diri, pihak yang paling dirugikan adalah anak. Proses pengasuhan anak mau tak mau akan terganggu, karena bagaimanapun cintanya seorang ibu kepada anaknya, tentu sebagai pekerja ia harus patuh pada aturan dan jadwal yang berlaku di perusahaannya.

Oleh karena itu, menurut Nadia, ketika seorang perempuan sudah berumah tangga dan memiliki anak, mau tak mau ia harus memprioritaskan anak dibanding kepentingan-kepentingan lain. Karena anak adalah amanah terbesar bagi keluarga, terutama ibu. Seperti kata Aisyah ra ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Seorang anak setiap senantiasa mengharapkan belaian kasih sayang sang ibu.

“Namun jika keadaan mengharuskan ibu membantu suami mencari nafkah, ia harus pandai membagi waktu. Dengan kata lain, sesibuk dan seberat apapun beban pekerjaan yang diemban, tetap harus mengalokasikan waktu untuk anak-anak, baik sepulang kerja atau saat libur,” tutup Nadia. (ce2)

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com