Pesantren Eksotis di Lereng Gajah Mungkur

santri2

Oleh Md Aminudin (novelis, biografer)

biograph.id–Kami bertemu pertama kali pada 2015 di Bontang Kaltim, kebetulan sama-sama ada pekerjaan di sana. Saya menulis biografi, ia konsultan sebuah radio. Hanya mengobrol beberapa jam. Setelah itu putus. Hingga ujung 2017 lalu Mas Winarno, teman saya ini menelpon, bicara panjang lebar ihwal aktivitasnya merintis sebuah pesantren. Bukan pesantren buat usia sekolah, tapi untuk lansia. Unik, aneh, ganjil.

Para lansia belajar mengaji di Pesantren Raden Rahmat

“Kurang kerjaan amat, orang lanjut usia disuruh belajar agama,” pikir saya waktu itu (dan kelak saya menyesal karenanya).

Ketika saya tanya apa tujuannya, dengan sesenggukan ia menjawab: “Dosa saya kepada emak terlalu banyak. Sejak bapak meninggal, beliau tinggal seorang diri. Niat saya mendirikan pesantren adalah menemani emak dan mendampingi beliau mendalami Islam.”

Mata saya sempat mrabak mendengar getar suaranya yang tulus. Saya sudah sering melihat klien menulis biografi menangis di hadapan saya manakala mereka bercerita tentang masa lalu. Tapi baru kali ini saya dengar orang menangis berat seperti menanggung kesalahan besar. Ada energi tak terbendung di balik tangisnya, seperti kelak ia buktikan lewat totalitasnya di pesantren.

Oya, mrabak itu bahasa Jawa yang jika ditranslate ke bahasa Indonesia artinya kira-kira: berkaca-kaca. Ada lagi istilah mbrebes mili, itu artinya menangis tersedu-sedu disertai derai air mata. Bahasa Jawa memang kaya penanda. Sebagai orang Jawa kadang-kadang saya miskin, karena banyak hal-hal tentang Jawa yang belum saya kuasai.

Sejak saat itu kami lumayan intensif komunikasi. Kemudian saya dapat cerita lagi bahwa perjalanan awal pesantren itu tak berjalan mulus, banyak rintangan. Minim dana, minim mitra.

Sebagai upaya menjalin mitra bahkan ia sempat safari keliling ke beberapa lembaga sosial besar dengan harapan memperoleh bantuan program. Alih-alih mendapat bantuan bahkan ada beberapa lembaga yang justru memplagiat konsep-konsep yang dipresentasikan olehnya menjadi program baru di lembaga yang ia sambangi. Tidak berhenti di situ, karena pengenalan program yang cukup massif di sosial media maupun liputan media mainstream (Net. tv, Trans tv dll), secara silih berganti banyak perseorangan maupun lembaga yg menyambangi pondok yang baru berdiri ini dengan niatan studi banding.

Respons mereka beragam; ada yang mengecilkan dan meremehkan. Namun tidak sedikit yang alirkan simpati, sebut saja: Yayasan Alfalah Surabaya, Radio Suara Muslim Surabaya, LAZIS PJB Surabaya, Aksi Cepat Tanggap (ACT), Lazis Jateng dan para donatur pribadi.

Rintangan lainnya adalah penolakan warga. Sekadar diketahui, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru Semarang, tempat berdirinya pesantren ini secara sosiologis antara yang beragama Islam dan Nasrani berimbang; Islam 50%, Nasrani 40% sisanya aliran kepercayaan. Tapi Alhamdulillah dengan pendekatan toleransi penolakan itu tak sampai mengganjal jalannya pesantren.

Penulis bersama Ahmad Winarno. founder Pesantren Raden Rahmat tengah menikmati alam pedesaan di Ds Gedong, Banyubiru Semarang

Sejumlah rintangan itu tak membuat nyalinya anjlok. Ia terus jalan, meski dengan keterbatasan yg terlalu akut. Dengan memanfaatkan bekas kandang ayam di rumah ibunya, ia mulai menancapkan tonggak pesantrennya. Untuk membiayai pembangunan pesantren itu, ia bahkan nekat menggadaikan mobil satu-satunya yang ia miliki.

Pesantren yang Kental Khasanah Jawa

Sebagai mualaf yang pernah dididik sebagai pengkabar Injil, ia menguasai betul strategi dakwah hingga hal yang paling rinci. Soal pemilihan nama misalnya, ia tak memakai nama seperti umumnya pesantren yang didahului kata “Al” Al Manar, Al Hidayah etc. Tapi ia pilih Raden Rahmat sebagai nama pesantren lansia itu. Nama lengkapnya Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Nama ini terilhami nama salah satu tokoh penting Wali Songo, yaitu Raden Rahmat atau yang lebih kita kenal dengan nama Sunan Ampel.

Demikian pula cara ia memilih nama yayasan, ia memakai istilah yang mudah diterima masyarakatnya yang memang teguh menggenggam ajaran leluhur Jawa. Maka dipakailah Pitutur Luhur sebagai nama yayasannya.

Ada tiga falsafah yang menjadi fondasi kegiatan pesantren, yaitu olah rogo, olah jiwo olah roso. Olah rogo adalah kegiatan menjaga fisik agar tetap sehat, bugar di usia yang sudah tidak lagi muda, misalnya olah raga, memeriksa kesehatan rutin para lansia, bertani, dan kegiatan produktif lainnya. Olah jiwo adalah kegiatan rohani; mengaji, shalat, mempelajari dan membiasakan kembali dasar-dasar ibadah keagamaan yang pernah terlupakan. Olah roso adalah kegiatan mengasah kepekaan sosial kemasyarakatan.

Sejak didirikan awal 2018 tahun lalu, kini Pesantren Lansia Raden Rahmat Semarang ini merawat lansia mukim 35 orang, non mukim 60 orang, rumah 160 orang. Para santri datang dari berbagai kota bahkan luar Jawa; Jambi, Solok, Samarinda, Balikpapan dan Sulawesi. Untuk santri yang tinggal di rumah masing-masing, pihak pesantren melakukan kunjungan rutin untuk pembinaan spiritual, pemeriksaan kesehatan dan menyalurkan bantuan biaya hidup.

Bagai pembaca yang ingin bersedekah untuk asrama lansia dan pembangunan masjid Al Karimiyah Pesantren Raden Rahmat, dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) No. Rek. 7 9999 333 72 a.n Pesantren Raden Rahmat. Konfirmasi Bantuan Barang dan Donasi Telp: 0812-9968-619 WA : 0856-9329-9145

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com