Omah Tanpo Lawang

Begitulah orang kampung menyebutnya.

Foto ini adalah rumah tempat saya lahir dan dibesarkan. Tepatnya di Desa Gebangan Kecamatan Tegowanu, Grobogan.

Yang unik dari bangunan ini adalah; tak ada pintu utama alias blong2an. Bukan karena pintunya rusak atau apa, bapak sengaja tdk memberinya pintu.

Ceritanya begini:

Sejak saya kecil banyak orang kampung berkunjung ke rumah sekadar untuk minta petuah atau bantuan. Jadi, rumah kami tidak pernah sepi, sering sampai larut malam. Ada saja orang bertamu. Mungkin daripada repot-repot buka & tutup pintu, mending sekalian dicopot saja.

Almarhum bapak adalah guru SD. Dan saat saya SMA, beliau terpilih sebagai Kepala Desa. Para tetangga mengatakan, bapak itu orangnya ringan tangan, gemar membantu kesulitan orang. Saking perhatiannya kepada orang lain, sampai-sampai tak sempat memperhatikan anaknya. Saya daftar sekolah sendiri, berangkat sekolah sendiri, ambil rapor sendiri. Bahkan saat saya kuliah di Jakarta, tak pernah sekali pun beliau menjenguk.

Sebagai anak, saya pernah merasa baper karena merasa diabaikan. Namun kelak ketika dewasa, saya baru bisa mencerna pelajaran berharga sikap bapak ini; yaitu kemandirian. Secara tidak langsung perlakuan bapak yang seolah-olah tidak perhatian itu mendidik saya untuk mandiri dan bertanggung jawab atas pilihan hidup, termasuk pilihan saat saya resign dari PNS pajak awal Maret 2022 lalu.

Ya, banyak keluarga yang menyayangkan, mengapa saya keluar dari zona sangat nyaman dg gaji & tunjangan puluhan juta, pindah ke zona yang serba tak pasti. Di lain waktu sy akan cerita mengapa memilih keputusan ekstrem ini.

Kembali ke cerita rumah masa kecil itu, tak ada perubahan berarti sejak rumah tersebut dibangun pada 1970-an lampau. Masih seperti bentuk aslinya. Kalau pun ada perubahan, mungkin cat dan plafonnya saja yang diperbarui.

Seperti umumnya rumah di desa, bangunan utama rumah ini adalah ruang tamu yang memanjang tanpa sekat. Di ruangan inilah bapak sering menerima tamu-tamu yang datang silih berganti. Kebiasaan itu terus berlangsung sampai kami anak-anak beliau berkeluarga dan hidup jauh dari desa. Bahkan meskipun bapak sudah tidak menjabat lagi sebagai kepala desa, warga tetap banyak yang datang.

Sejak ibu meninggal pada 2010 lalu, praktis bapak hidup seorang diri. Tapi beliau tak benar-benar sendiri. Masih banyak orang menyempatkan datang ke rumah tanpa pintu ini untuk menemani beliau, membersihkan lantai atau sekadar mengobrol.

Hingga pada 17 Agustus 2021 lalu, tepat ketika wabah Corona mencapai puncaknya, Allah memanggil beliau. Meskipun berdasarkan tes, beliau negatif. Tapi Gusti Allah selalu punya cara untuk memanggil pulang hamba-Nya tanpa perlu alasan kenapa dan sebab apa.

Kini meskipun sang empunya sudah tiada, rumah tanpa pintu itu tetap ramai dikunjungi warga kampung. Hingga pada awal 2022 lalu saya memutuskan untuk resign sebagai PNS di Direktorat Pajak dengan satu cita-cita; ingin fokus merawat warisan yang tinggalkan bapak, warisan kebaikan, berbagi kepada sesama. Salah satunya dengan mendirikan Yayasan Amal Receh Indonesia (ARI).

Fokus utama LSM ini adalah lingkungan hidup dan pertanian. Mengapa? Pertama, karena dunia pertanian adalah penyangga utama ekonomi masyarakat Indonesia. Saya sendiri lahir dan besar di lingkungan desa saya mayoritas penduduknya adalah petani. Kedua, semakin jarang anak muda yang tertarik pada dunia pertanian. Maka lewat Yayasan ARI saya ingin mengajak kita semua kembali peduli pada lingkungan dan pertanian, karena inilah potensi terbesar bangsa ini.

Ayo, Lur, bantu saya dan Yayasan ARI untuk menghijaukan bumi dan menyejahterakan petani.

—————

Note: jika cerita ini menginspirasi dirimu untuk melakukan gerakan yang sama, silakan share ke sebanyak mungkin orang.

recehpunbisa.com

#petanimuda

#petanimilenial

#petaniindonesia

#IndonesiaMenanam

#KedaulatanPangan

IG: @agungwijayanto.new

FansPage: Mas Agung Wijayanto

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest

ARTIKEL TERKAIT

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com