Mengatasi Masalah dengan Kecerdasan Spiritual

lamps

Dalam perspektif spiritual, pilihan untuk tetap tenang dan fokus mencari solusi adalah perwujudan dari kecerdasan berlandaskan keimanan. Manusia cerdas spiritual akan selalu memiliki kelapangan jiwa dalam menerima masalah karena yakin dengan jaminan dari Allah langsung,”Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha.”

Jelaslah sudah bahwa Allah menggaransi bahwa level masalah yang diberikan kepada manusia pasti proporsional, sesuai dengan kadar kemampuan manusia itu sendiri. Mustahil kesulitan yang diberikan kepada manusia level para Rasul ditimpakan kepada manusia biasa. Berangkat dari keyakinan inilah orang cerdas spiritual tidak akan mengalokasikan waktunya untuk banyak mengeluh dan berburuk sangka. Dia akan langsung memfokuskan pikiran dan mendayagunakan segenap kapasitasnya untuk merancang konsep penyelesaian masalah.

Kecerdasan spiritual juga mendorong manusia untuk meyakini bahwa tak ada masalah tanpa solusi. Janji Allah sudah sangat jelas,”sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Bukankah runtuhnya peradaban jahiliah oleh Rasulullah bersama para sahabat terjadi setelah berkali-kali mengalami intimidasi dan bahkan embargo ekonomi hingga harus hijrah dari Mekkah ke Madinah?

Bersama Kesulitan ada Kemudahan

Janji Allah itu pulalah yang membangunkan kesadaran bahwa tidak ada yang absolut pada diri manusia. Bahwa no body perfect, itu tak bisa dinafikan. Namun ketidaksempurnaan manusia sebagai sebuah masalah sama tidak absolutnya dengan kehebatannya. Segala kekurangannya akan bisa teratasi oleh potensi hebatnya. Pun sebaliknya, segala potensi hebatnya dibatasi kelemahan yang melekat padanya. Jadi apalah gunanya mengeluh dan menyesali kekurangan jika tetap ada sesuatu yang bisa dioptimalkan untuk menjadi istimewa? Seperti Messi yang bisa dioptimalkan kecepatan pergerakan dan kemampuan menguasai bolanya untuk menutupi masalah posturnya. Juga Paganini yang mampu mengoptimalkan satu senar tersisa untuk mengakhiri konser dengan indah hingga terabaikanlah senar-senar yang patah.

Dengan sendirinya, janji Allah yang tersurat pada ayat-ayat Al Insyirah itu juga akan memotivasi manusia untuk tidak berhenti di satu titik masalah apalagi terus menerus menoleh ke belakang, menyesali yang telah berlalu, meratapi yang hilang. Kecerdasan spiritual akan membuatnya lebih banyak mengerahkan segala daya upaya untuk menemukan kemudahan-kemudahan yang Allah janjikan.

Sebagai Dzat yang mustahil ingkar janji, Allah juga menawarkan solusi paling dasar untuk menemukan kemudahan-kemudahan yang teah dijanjikan. Karena bersifat fundamental, inilah kunci utama untuk meraih kemudahan demi kemudahan, Solusi yang dimaksud adalah sabar dan shalat. Dengan itulah pertolonganNya berupa kemudahan untuk mengatasi kesulitan akan bisa diharapkan kehadirannya.

Pohon Kaktus

Namun perlu ada pembenahan pemahaman terlebih dulu tentang konsep sabar. Sesungguhnya sabar bukan sikap pasif membiarkan masalah akan raib dengan sendirinya. Metafora dari sabar seperti pohon shobar alias kaktus yang tetap bisa hidup bahkan bebuah sekalipun di tengah gurun dengan cuaca panas nan ekstrim. Jadi sabar adalah sikap aktif produktif di jalan Allah dalam rangka menemukan solusi terbaik atas masalah yang dihadapi. Sabar yang seperti inilah karakter seorang survival. Seperti orang yang ingin meningkatkan starata ekonominya dengan menjalani profesi sebagai pengusaha properti syariah. Itulah esensi sabar. Bukan sabar namanya jika ingin menjadi kaya namun diam berpangku tangan menanti turunnya hujan uang dari langit. Juga tidak bisa disebut sabar jika ingin hidup berkecukupan dengan melakukan tindak pidana pencurian, perampokan atau bahkan korupsi. Orang yang memiliki jiwa sabar akan merasa lapang hidupnya dan akan bisa selalu bersyukur, sekalipun tertimpa masalah.

Kesabaran memang sesuatu yang abstrak. Namun bisa ditemukan indikatornya dalam bentuk ekspresi saat menghadapi masalah. Seperti saat terjadi pandemi Covid-19, termasuk saat pemerintah mengeluarkan imbauan stay at home hingga melahirkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pemilik kesabaran akan tetap tenang, stabil emosinya, dan segera beradaptasi dengan menyusun langkah-langkah solutif. Bagi pelaku bisnis, inilah momentum untuk rehat barang sejenak, melakukan evaluasi, dan menyusun langkah-langkah strategis berikutnya.

 Jiwa yang sabar juga akan menuntun manusia untuk bisa selalu bersyukur, bukan hanya di saat bahagia namun juga di saat berduka, bukan hanya di masa lapang namun juga di saat sulit. Mungkin bagi kebanyakan orang, bersyukur saat terjadi musibah seperti pandemi Covid-19 adalah sikap aneh bahkan naïf. Karena siapapun tahu, kebijakan PSBB ini menimbulkan efek domino sangat besar, termasuk terhadap sektor ekonomi di masyarakat. Banyak kegiatan ekonomi yang terhambat atau bahkan mandeg. Pantaskah ini disyukuri?

Namun di sisi lain, sebelum adanya pandemi, semua pelaku bisnis pastinya terus berjalan, memutar modal, melakukan aktivitas promosi, dan sebagainya. Otak terus dipaksa berpikir agar bisnis yang berjalan memiliki daya saing dan berkembang. Nyaris tidak ada waktu istirahat guna melakukan kontrol dan evaluasi. Jika tidak ada PSBB, ibarat mesin, manusia bekerja terus. Tidak ada kesempatan “ngasah golok” melakukan replanning dan penataan ulang strategi. Juga melakukan bersih-bersih terhadap tim dan mengevaluasi lankah-langkah yang sudah dilakukan, termasuk evaluasi terhadap harga, perencanaan project, rekanan, mitra, customer, sekaligus melakukan perencanaan agenda-agenda baru.

Selain sabar, langkah awal yang Allah tawarkan untuk mendapat pertolonganNya adalah shalat. Bagi seorang hamba, shalat adalah bentuk totalitas pengakuan sebagai hamba di hadapan Allah sebagai Tuhan. Hamba yang sungguh-sungguh dalam shalatnya akan jauh dari kesombongan mengingat statusnya sebagai hamba yang kekuasaannya hanya sebatas pemberian dari Dzat Yang Maha Kuasa, kekuasaanNya tak terbatas. Sebagai hamba, tak sedetikpun manusia merasa tidak butuh adanya Tuhan sebagaimana pemikiran kaum atheis. Ekspresi kebutuhan terhadap pertolongan Allah itu adalah melalui doa-doa dalam shalat. Dari doa-doa yang dimohonkan itulah Allah berikan pertolongan.

Dalam sejarahnya, turunnya perintah shalat adalah dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Inilah bentuk pertoongan Allah kepada Rasulullah yang senda dilanda kesedihan mendalam akibat meninggalnya dua figur penting dalam perjuangan dakwah beliau yaitu Abu Thalib, paman sekaligus pelindung Rasulullah dari intimidasi kaum Quraisy, dan juga istri tercita, Khadijah yang sangat total mendukung Rasulullah.

Selain itu, salah satu sahabat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Ali Bin Abi Thalib radhiyyalahu ‘anhu, pernah menuturkan kesaksiannya pada malam jelang perang Badar. Pada malam berlangsungnya Perang Badar, kami semua tertidur kecuali Rasulullah SAW. Beliau shalat dan berdoa sampai pagi. Dan apa yang terjadi berikutnya sungguh-sungguh dahsyat. Pasukan Rasulullah yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari lawannya ternyata mampu meraih kemenangan. Bahkan panglima pasukan musuh berhasil dibinasakan.

Selain itu, shalat yang didirikan, bukan sekadar dikerjakan, akan menghadirkan rasa malu berbuat dosa. Rasa malu itulah yang akan menjadi rem pencegah manusia dari segala bentuk kekejian dan kemunkaran. Orang yang shalatnya tegak akan malu untuk berbuat maksiat, mencuri, merampok dan bahkan korupsi. Kalau ada orang shalat tetapi korupsi, maka dia baru sebatas mengerjakan shalat, bukan mendirikan shalat.

Terkait dengan shalat, sandaran vertikal ini juga menjadi bekal spiritual kami dalam menjalani kehidupan usaha. Bukan hanya shalat wajib, shalat sunnah seperti Dhuha sudah menjadi rutinitas. Ini dilakukan bukan semata-mata menjaga citra sebagai pelaku usaha yang mengusung label properti syariah, tetapi sebagai wujud pengakuan bahwa hanya kepada Allah seorang hamba berserah diri dan memohon pertolongan.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com