Pohon Harapan itu Terus Tumbuh

“Tulisan pak Amin benar-benar hidup. Saya jadi terkenang almarhum kedua orangtua saya.”

Itulah kesan orang nomor 2 di Bontang-Kaltim itu, seusai membaca bab 1 dari 8 bab biografi yang didedikasikan untuknya.

“Kata anak saya, ‘bagus, Yah. Kayak novel’,” imbuhnya.

Sore itu, di ruang tamu rumah dinasnya yang sederhana, yang terletak di sebuah perumahan, suasananya memang sedikit melankolis. Saya lihat ada dua titik air mengambang di kedua pelupuk matanya. Saya jadi sedikit ge er, sekuat itukah tulisan saya mempengaruhi suasana batinnya?

Selalu. Muncul pertanyaan besar tiap kali menerima amanah menulis buku biografi atau lainnya; Apakah saya bisa memenuhi ekspektasi sang klien? Kesan awal di atas memang sedikit membuat saya terhibur. Setidaknya, itu awal yang baik. Namun tak serta-merta membuat dada saya membusung, masih tersisa 7 bab lagi yg masih harus saya buru 2.5 bulan ke belakang. Yang tetap harus saya jaga ritme kualitasnya.

***

Saya mengenal Pak Isro Umarghani pada 2014, bulan Oktober. Dalam kapasitas saya sebagai penulis biografi beliau. Itu memang bukan biografi pertama yang saya tulis. Tapi itu adalah pengalaman pertama menuliskan kisah hidup pejabat publik yang punya nama agung di hati masyarakatnya. Yang saya jalani kemudian adalah; tidak mudah, dalam hal waktu. Saya mafhum, sebagai orang nomor dua di kota yang tengah berkembang, rutinitasnya luar biasa padat. Pernah saya wawancara hingga pukul 01.00 dini hari, di tepi pelabuhan Bontang. Namun lebih sering wawancara jarak jauh, via telepon; saya di Sidoarjo, Pak Isro di Bontang. Umumnya start pukul 9 malam, setelah beliau memimpin rapat atau inspeksi di lapangan.

Ya, yang saya tahu kemudian, beliau tipe pemimpin yang tak puas hanya menerima laporan dari bawahan. Bahkan, para ajudannya bercerita, anak rantau ini tak segan menerobos hujan untuk melihat langsung masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Seperti Bu Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya itu. Bedanya, tak ada sorot kamera yang merekam aksi-aksi heroik lelaki kelahiran Desa Klurahan-Nganjuk itu.

Lewat wawancara yang panjang itu, yg berseling-seling dua hingga tiga hari sekali selama dua bulan, saya sendiri amat menikmati aliaran cerita hidupnya, yang naik turun di awal, kemudian terus menanjak. Semakin lama, saya semakin menyadari bahwa saya telah bertemu dengan “pelayan rakyat” yang sebagian besar hidupnya memang didedikasikan untuk rakyat. Kepribadian yang agung itu disokong oleh kapasitas intelektual yang memadai.

Ngobrol dengan Pak Isro adalah dialog tentang gagasan. Sampai-sampai otak saya yang memang rada tumpul sering mentok mengimbangi derasnya air bah ide-ide briliannya. Visi-misi pembangunannya terang dan terukur. Penguasaanya terhadap persoalan masyarakat dan pembangunan nasional benar-benar sudah level elit. Kadang-kadang dalam pikiran liar saya sering terlintas; mestinya kapasitas Pak Isro itu di provinsi atau setidaknya kursi kabinet.

Namun begitulah, bagi mantan pegawai Pupuk Kaltim ini jabatan adalah tanggung jawab yang tak boleh dikejar namun tak pula boleh menghindar manakala diberi amanah.Hal lain yang mengesankan saya adalah kebersahajaannya. Ia pribadi yang sudah sukses, berprestasi, pejabat penting, punya sekolah yang di Bontang cukup elit, tapi penampilannya apa adanya seperti orang kebanyakan. Ajudannya bercerita, mobil pribadinya hanya sedan tahun 90-an (mudah-mudaan sekarangsudah ganti, he..he) jauh lebih layak mobil saya saat itu. Saya menyaksikan sendiri rumah dinasnya yang minim dekorasi. Ya, ornamen hidupnya terlalu polos untuk seorang pejabat penting dari kota yang kaya raya itu.

Bagi saya pribadi, menuliskan biografi Pak Isro Umarghani yg kini Direktur Yay Pendidikan Asy-Syaamil ini, adalah sebuah penghormatan. Bukan semata tersebab waktu itu beliau adalah pejabat penting, tapi karena perjalanan hidupnya yang beraneka warna dan terlampau berharga jika hanya disimpan sebagai memori pribadi. Dan sayalah akhirnya, yang dipercaya untuk mendengar cerita hidupnya yang paling pribadi, paling rahasia. Ttg perasaanya, ttg keluarganya, ttg kisah cintanya yang mengharu-biru, ttg pikiran-pikirannya. Pendek kata ttg semua yang membentuk dirinya dari kecil hingga dewasa.

***

Sudah lama saya tak berkomunikasi dengan beliau, sejak 2015 lampau. Maka ketika awal Desember 2018 lalu beliau menelpon, jantung saya berdetak; ada apa? Ternyata no.hp saya masih disimpan. Ternyata ada kabar baik. InsyaAllah tak lama lagi saya bakal ke kota pengolah gas itu. Menerima kepercayaan baru. Sebagai penulis buku beliau yang baru.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com