Ekonomi Kanibal

biograph.id–Sistem ekonomi kapitalis yang dianut sebagian besar negara di dunia sudah diambang jurang. Hayatnya tak lama lagi. Kapitalisme yang menjadi patron ekonomi global, dan diagung-agungkan karena diyakini mampu menyejahterakan umat manusia, tak lama lagi tinggal mitologi. Bukti empris terjadi di beberapa negara di Eropa seperti Yunani, Irlandia, Italia, dan Prancis terguncang dan terancam collaps. Negara-negara di benua biru tersebut susul-menyusul gulung tikar. Amerika dan bahkan Asia, juga ikut menanggung efek domino dari krisis tersebut.

Pakar ekonomi Fritjop Chapra dalam bukunya, The Turning Point, Science, Society and The Rising Culture (1999) dan Ervin Laszio dalam buku 3rd Millenium, The Challenge and The Vision (1999), mengungkapkan bahwa ekonomi konvensional (kapitalisme) yang berlandaskan sistem ribawi, memiliki kelemahan dan kekeliruan yang besar dalam sejumlah premisnya, terutama “kanibalisme” ekonomi yang telah mengabaikan moral. Kanibalisme ekonomi adalah praktik ekonomi dimana yang kuat (pemilik modal besar) memakan yang lemah (pemilik modal kecil, rakyat), yang notabena mayoritas masyarakat.

Sifat-sifat kanibal itulah yang menyebabkan sistem ekonomi konvensional (liberal) tidak berhasil menciptakan keadilan ekonomi dan kesejahteraan bagi umat manusia. Yang terjadi justru sebaliknya, ketimpangan yang semakin tajam antara negara-negara dan masyarakat yang miskin dengan negara-negara dan masyarakat yang kaya, demikian pula antara sesama anggota masyarakat di dalam suatu negeri.

Jantung dari sistem ekonomi kapitalisme adalah riba. Riba menjadi akar penyebab segala macam krisis,” kata Prof. Dr. M. Nizarul Alim, M.Si, Ak., Guru Besar Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi Universitas Trunojoyo.

Untuk menguatkan begitu jahatnya riba, pengasuh Pondok Mahasiswa Al Kayis ini mengutip ayat 275 dalam surat al-Baqarah: Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..

Pada ayat tersebut terdapat dua frase dimana Allah menganalogikan pemakan riba sebagai orang yang “gila” dan “kerasukan setan”. Bahwa orang yang memakan riba tak mampu tegak berdiri dan seperti orang gila. Jika kita komparasikan dengan kehidupan secara global, maka kelimpungannya ekonomi Barat saat ini sesungguhnya karena praktek riba yang berefek domino.

Itulah mengapa pada ayat selanjutnya (2:276) Allah menegaskan bahwa; Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa. Para mufassir menafsirkan bahwa memusnahkan riba bisa berarti dengan memusnahkan harta atau mencabut keberkahnya, sehingga banyaknya harta tidak lagi bermanfaat bagi pemiliknya. Kelimpahan harta justru menjadi awal kehancuran sebuah keluarga; ketidakharmonisan rumah tangga, perselingkuhan, kenakalan anak-anak, dan penyakit moral lainnya.

Dua Kata Kunci

Sistem riba telah begitu menjalar ke segenap aspek kehidupan masyarakat dan terlanjur menjadi sistem yang mapan dalam kegiatan transaksi ekonomi masyarakat. Masyarakat sering beranggapan bahwa tambahan yang sedikit dari pengembalian pinjaman (bunga) itu bukan termasuk riba. Padahal menurut Islam, sedikit atau banyak bunga sebuah pinjaman, statusnya tetap riba yang dihukumi haram.

Ada dua kata kunci dalam transaksi. Yang pertama al-khort yang artinya pinjaman. Yaitu pinjam-meminjam antara satu dengan yang lain atau meminjam berupa harta baik itu uang, emas, perak, gandum dan lain sebagainya. Yang kedua adalah tambahan, dari pinjaman tersebut kita memberikan tambahan baik dalam segi jumlah, bentuk maupun jenisnya.

“Misalkan kita meminjam uang 1 juta maka kita juga akan mengembalikan dengan jumlah uang yang sama. Hal itu juga berlaku dalam bentuk maupun jenis,” katanya. Lebih lanjut ia menjelaskan, jika seseorang meminjam atau berutang sekarung beras maka ia juga harus mengembalikan beras tersebut dengan merk yang sama. Lanjut Profesor Nizar, “Kuncinya, harus sama. Mungkin kita beranggapan, kan sama-sama beras? Tapi kan ada beras yang lebih bagus dan harganya lebih mahal atau sebaliknya. Dan hal ini berkaitan dengan hal yang ketiga yakni tukar menukar.”

Pada zaman Rasulullah dulu ada salah satu sahabat yang memberi Rasulullah seikat kurma. Lalu Rasulullah pun bertanya dari mana engkau mendapatkan kurma ini. Sahabat pun menjawab bahwa ia menukar dua ikat kurma yang ia miliki dengan kurma yang lebih baik. Rasulullah pun mengatakan bahwa itu adalah Riba. Rasulullah pun menjelaskan bahwa 2 ikat kurma tersebut dijual terlebih dahulu, lalu dibelikan kurma yang lebih baik.

Menghindari Riba

Cara menghindari riba menurut syariah ada dua macam; yang pertama jual-beli dan yang kedua yakni sewa menyewa. Dalam sistem syariah pada saat seseorang meminjam uang pasti akan ditanya “buat apa uang tersebut?” berbeda dengan konvensional pada saat peminjaman uang, pinjam berapa dan dibuat apa terserah si peminjam. Sedangkan sistem syariah diawasi dan dijaga dengan akad jual-beli atau sewa-menyewa.

“Misalnya saya ingin meminjam uang 200 juta untuk membeli mobil,” katanya mencontohkan. “Maka si pemberi pinjaman membelikan mobil tersebut lalu dijual kepada saya dengan harga 250 juta dan di bayar sekian tahun. Akad dalam hal ini bukan pinjam-meminjam akan tetapi jual beli. Karena pihak bank atau pemberi pinjaman menjual barang kepada pihak pembeli/peminjam.

Akan tetapi apabila dari batas waktu yang ditentukan tidak bisa melunasi maka ada syarat tambahan yang mana uang tambah tersebut masuk dalam “non penghasilan” atau tidak boleh diakui sebagai penghasilan. Karena akad di awal jual beli dengan harga 250 juta maka akan mendapat uang sebesar itu, walaupun mengalami inflasi ataupun krisis. Sedangkan uang nonpenghasilan tersebut akan disalurkan kepada amil zakat karena bukan penghasilan dari yang memberi pinjaman.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com