Bangkit Lewat Pendidikan

Buku 2 Windu Asy-Syaamil, Sebuah Sekolah Islam di Kaltim
2 windu syaamil

oleh Isro Umarghani–Direktur Sekolah Asy-Syaamil Bontang

Mengapa negara yang kaya sumber daya alam justru—pada umumnya—masyarakatnya kurang sejahtera? Mengapa negara yg miskin sumber daya alam justru menjelma jadi negara maju dan kaya? Tengoklah Jerman, Jepang, Singapura, atau negara tetangga kita Malaysia. Sampai-sampai muncul teori; kutukan sumber daya alam. Sebuah paradoks yg rasanya menyesakkan dada.

Untuk menjawab masalah ini memang harus diteropong dari berbagai sisi; sosial, budaya, politik. Namun saya menemukan semacam pola yang sama, bahwa negara-negara yang kaya itu ditopang oleh kualitas pendidikan yg bermutu. Coba kita cermati, di dunia ini yang mengalami kemajuan secara eksponensial adalah bangsa yang memosisikan pendidikan sebagai agenda nomor satu. Tengoklah tetangga terdekat kita, Malaysia. Pada tahun 1970-an, negeri Jiran itu “mengimpor” tenaga pendidik dari Indonesia. Tak cukup sampai di situ, Malaysia bahkan mengirimkan para pemudanya untuk belajar ke Indonesia.

Pada tahun-tahun tersebut Malaysia melakukan investasi besar-besaran di bidang sumberdaya manusia. Dan hasilnya, 20 tahun kemudian, kemajuan Malaysia menyalip negeri yang sebelumnya jadi maha gurunya. Sebaliknya, pada tahun 1990, Indonesia “mengekspor” TKI yang banyak dipekerjakan di sektor-sektor un·skilled.

Ihwal perbandingan peringkat pendidikan Malaysia dan Indonesia mari tengok data QS University Rangking Asia 2019 yang dirilis situs www.topuniversities.com, peringkat universitas-universitas Malaysia jauh berada di atas perguruan tinggi Indonesia. Bahkan, Universitas Indonesia yg di tanah air menduduki peringkat nomor 1, di level Asia menempati urutan ke- 282.

Peringkat itu jauh di bawah empat universitas asal Malaysia. Universiti Malaya (UM) berada di peringat 87, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di peringkat 184, dan Universiti Teknologi Malaysia pada urutan 228.

Malaysia secara sadar diri telah melakukan investasi besar-besaran di bidang pendidikan. Karena mereka percaya, dengan kekayaan sumber daya manusia-lah mereka bisa mengejar ketertinggalan. Hasilnya? Malaysia mengalami lejitan prestasi dari berbagai sisi. Sebagai perbandingan, kita simak laba Petronas vs Pertamina. Pada 2018 lalu Pertamina membukukan laba usaha 5 triliun, sementara Petronas 49 triliun.

baca juga: Etos Perintis

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa kualitas pendidikan akan berdampak domino pada sektor-sektor lain. Rumusnya sederhana; kualitas pendidikan yg bermutu menghasilkan SDM yg bermutu pula. Ya, pendidikan. Inilah yg menjadi concern saya sejak 2003 lampau, tepatnya sejak mendirikan lembaga pendidikan Asy-Syaamil di Bontang.

Pertanyaan yang kemudian menggelitik adalah, mengapa negara-negara yang minim sumber daya alam justru lebih kaya? Jepang, misalnya. Jawabannya sekali lagi adalah kualitas SDM. Kebetulan pada tahun 1987 saya pernah dikirim Pupuk Kaltim untuk mempelajari mesin pabrik yang hendak diadopsi PKT. Selama tiga bulan saya ditraining langsung di bawah bimbingan ahli-ahli mesin banga Jepang. Dari interaksi dengan orang-orang Jepang saya tahu bahwa etos belajar mereka memang di atas rata-rata.

Jepang bahkan mengalami kebangkitan secara heroik setelah diluluhlantakkan bom atom. Pada tahun 1960-an Jepang sudah menjadi negara pengekspor otomotif yang cukup diperhitungkan. Salah satu negara tujuan utama ekspor otomotif Jepang tersebut tak lain dan tak bukan adalah Indonesia.

Jepang memulai kebangkitannya tidak dengan modal uang. Uang negara sudah habis untuk membiayai perang dunia ke-II. Saat itu Kaisar Hirohito memerintahkan untuk mengumpulkan kaum cerdik cendekia, para guru untuk menyusun roadmap kebangkitan Jepang. Mengapa kaum terpelajar? Karena Kaisar sadar, ilmu adalah peranti yang paling ampuh untuk keluar dari keterpurukan.

Sebagai pemimpin tertinggi, Kaisar Hirohito tidak berpikir bagaimana mengumpulkan modal finansial, misalnya mengemis utang ke luar negeri. Siapa pula yang mau memberi pinjaman negara yang baru saja kalah perang dan bangkrut itu? Alih-alih mengemis kepada negara lain sebagai bangsa yang tiba-tiba jatuh miskin dan menderita karena kalah perang, Jepang justru memilih bangkit dengan mengais-ngais sisa kekuatan yang ada pada diri sendiri. yaitu ilmu.

Ia memerintahkan menteri pendidikannya untuk menghitung jumlah guru yang tinggal dan masih hidup. Satu sumber menyebutkan bahwa jumlah guru yang tersisa di Jepang pada saat itu adalah sebanyak 45.000 orang. Sejak itu, Kaisar Hirohito gerilya mendatangi para guru yang tinggal itu dan memberi perintah juga arahan. Rakyat Jepang sangat menjunjung titah dari Kaisar ini dan dilaksanakan dengan penuh komitmen dan konsekuen.

Ada lima perintah atau arahan yang harus dilaksanakan oleh para guru: Pertama, guru harus melaksanakan pendidikan yang bermutu. Kedua, guru harus disiplin dari murid. Ketiga, guru harus lebih pintar dari murid. Keempat, pendidikan itu harus bisa menuntun industri. Kelima, Kaisar akan mengirimkan guru-guru yang potensial ke luar negeri untuk menimba ilmu pengetahuan dan mengasah pengalaman dan jika selesai tugas belajarnya mereka diperintahkan untuk pulang ke Jepang.

Lantas, bagaimana nasib Jepang setelah itu? Seperti yang kita saksikan hingga saat ini, kehidupan negara Jepang berubah 180 derajat dari sebelumnya. Bahkan di tengah gonjang-ganjing ekonomi dunia yang sedang lesu, Jepang tetap tercatat sebagai negara makmur dengan pendapatan per kapita USD 17 juta.

Saya yakin, pendidikanlah cara yang paling efektif untuk bangkit dari keterpurukan yang dialami bangsa kita. Pendidikan yang saya maksud tidak melulu diperoleh di bangku sekolah formal, namun bisa dari mana saja. Poin penting yang ingin saya sampaikan di sini adalah ILMU.

Jika ingin mengubah nasib, pintu masuk yang paling efektif adalah belajar secara rakus, tak lelah untuk terus mengembangkan kompetensi diri. Seperti nasihat Imam Syafi’i; “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”

Apa yang mesti dilakukan agar kualitas hidup kita semakin membaik bahkan melejit? Semuanya saya tuangkan dalam buku saya “Q-Leadership”. Membangun etos kepemimpinan dan manajerial berjiwa perintis.

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on pinterest
Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Office

Jl. Dahlia 1 Orchid Residence Blok i3, Beji, Kota Depok

Jl. Wisma Lidah Kulon, A-105, Surabaya

Contact

  • 081-5510-22-11
  • biograph.id@gmail.com